Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dulu Pasar Maling di Wonokromo Surabaya Hanya Buka Akhir Pekan, Rawan Barang Curian

Lambertus Hurek • Rabu, 8 April 2026 | 13:01 WIB
Lokasi Pasar Maling di kawasan Wonokromo Surabaya. (Hurek/Radar Surabaya)
Lokasi Pasar Maling di kawasan Wonokromo Surabaya. (Hurek/Radar Surabaya)

 

 

RADAR SURABAYA - Pasar Maling di kawasan Wonokromo dikenal luas tidak hanya oleh warga Surabaya tetapi juga masyarakat luar daerah. Aktivitas jual beli di pasar ini memiliki ciri khas tersendiri. Para pedagang yang membuka lapak sederhana dengan menggelar tikar atau meja kecil di pinggir jalan.

Banyak orang salah paham karena mengaitkannya dengan praktik ilegal. Namun, di balik sebutannya, terdapat sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.

Baca Juga: Siap Sambut Jemaah, BBKK Lakukan Pemeriksaan Sanitasi Lingkungan Asrama Haji Surabaya

Pengamat sejarah kota, Kuncarsono Prasetyo, menjelaskan bahwa Pasar Maling yang asli sebenarnya sudah tidak ada lagi. Lokasi awal di sisi utara Pasar Wonokromo. “Kemudian tahun 2004 terjadi kebakaran dan 2006 dibangun DTC,” ujarnya.

Kuncarsono juga tidak menampik bahwa pada masa lalu, sebagian barang yang diperjualbelikan memang berasal dari hasil curian. Barang yang paling banyak dijual adalah alas kaki yang diduga hasil pencurian saat salat Jumat. Karena itu, pasar ini biasanya buka setiap Sabtu dan Minggu.

Ia bahkan mengaku pernah menjadi korban pada tahun 1998. Saat menunaikan salat Jumat di Masjid Al-Falah, sepatunya hilang. Keesokan harinya, ia mencoba mencarinya di Pasar Maling dan menemukan barang tersebut dijual di salah satu lapak.

Meski demikian, Kuncarsono tidak mengetahui secara pasti kapan Pasar Maling mulai beroperasi. Ia memastikan bahwa aktivitas jual beli di kawasan tersebut sudah ramai sejak dekade 1970 hingga 1980-an.

Perpindahan lokasi pasar terjadi setelah kebakaran tahun 2004. Para pedagang kemudian mengungsi dan membuka lapak sementara di area Terminal Wonokromo, yang kini dikenal sebagai lokasi Pasar Maling.

Baca Juga: Arca Shiva dan Prasasti Damulang Segera Dipulangkan ke Indonesia, Belanda Sudah Tak Berminat Lagi

“Dulu memang daerah itu kawasan merah. Pasar, terminal, stasiun, tempat pelarian buron, narkoba, dan prostitusi di situ,” kata Kuncarsono.

Seiring waktu, kondisi pasar mengalami perubahan. Setelah kebakaran, tren perdagangan bergeser dan pelanggan mulai terbagi antara Pasar Maling dan Pasar Wonokromo. Pedagang pun silih berganti, baik yang berada di luar maupun di dalam area pasar. 

Jenis barang yang dijual kini juga semakin beragam, tidak hanya sepatu, tetapi juga pakaian, barang elektronik bekas, aksesoris, hingga telepon genggam. Bahkan, sesekali ditemukan barang bermerek dengan harga relatif murah.

“Sekarang yang dijual lebih banyak barang bekas dan impor karena lebih murah. Tapi kalau melihat barang curian, rasanya sudah tidak ada lagi,” ujar Kuncarsono. (*)

Editor : Lambertus Hurek
sejarah pasar maling terminal wonokromo pasar maling wonokromo pasar maling DTC