Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Urgensi Menumbuhkan Pembelajaran Bermakna di Tahun Ajaran Baru

Rahmat Sudrajat • Senin, 13 Juli 2026 | 20:40 WIB
Kepala Sekolah SMPN 22 Surabaya, Ismy Latifaty. (IST/RADAR SURABAYA)
Kepala Sekolah SMPN 22 Surabaya, Ismy Latifaty. (IST/RADAR SURABAYA)

Oleh: Ismy Latifaty, Kepala Sekolah SMPN 22 Surabaya

RADAR SURABAYA - Minggu pertama tahun ajaran baru selalu menghadirkan pemandangan yang memberikan harapan besar bagi masa depan pendidikan: seragam yang rapi, tas beraroma baru, dan barisan murid baru yang melangkah optimis melewati gerbang sekolah. Di balik seremonial Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dinamis, momen transisi ini membawa ruang refleksi yang mendalam bagi seluruh ekosistem pendidikan. 

Hari-hari pertama sekolah adalah waktu yang sangat berharga bagi pihak sekolah, guru, maupun orang tua untuk menyelaraskan kembali fokus utama dalam mendampingi tumbuh kembang anak didik. 

Di tengah tuntutan zaman yang kian kompleks, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memastikan bahwa semangat belajar siswa tidak sekadar berorientasi pada pencapaian angka dan kelengkapan administratif ijazah semata.

Segala upaya ekosistem pendidikan yang selama ini gigih mendorong standar capaian akademik tentu patut mendapatkan apresiasi. Namun, ada kecenderungan yang kerap muncul ke permukaan setiap kali tahun ajaran baru dimulai. 

Orang tua secara alamiah menginginkan hasil akademik terbaik untuk anak-anak mereka, yang sering kali diukur dari tingginya angka di lembar rapor. Di sisi lain, para pendidik di kelas memikul tanggung jawab besar untuk menyelesaikan target kurikulum tepat waktu. 

Tanpa disadari, dinamika tersebut berpotensi menggeser esensi sekolah; dari ruang penyemaian karakter menjadi ruang yang terlalu fokus pada pemenuhan target kuantitatif. Ketika orientasi utama pendidikan condong pada hasil evaluasi berbasis kertas, ada risiko yang harus dibayar, siswa akan kehilangan kegembiraan dalam menemukan makna sejati dari proses belajarnya.

Pendidikan sejatinya adalah sebuah perjalanan transformatif yang mengubah cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan. Konsep pembelajaran bermakna atau meaningful learning yang dicetus David P. Ausubel (Steven S. Sexton, 2020) mengingatkan bahwa informasi baru hanya akan menjadi pengetahuan yang hidup jika mampu terhubung secara harmonis dengan struktur kognitif dan pengalaman riil yang telah dimiliki siswa. 

Belajar bukanlah aktivitas menumpuk informasi secara pasif. Konsep ini mengajak dunia pendidikan untuk melihat lebih dalam ke ruang-ruang kelas: apakah pengetahuan yang diberikan sudah menyentuh realitas kehidupan anak, atau baru sebatas hafalan jangka pendek demi kelulusan atau pujian?

Menyadari tantangan tersebut, momen minggu awal masuk sekolah menjadi waktu yang sangat tepat untuk melakukan refleksi dan penyelarasan langkah di setiap satuan pendidikan. Sekolah dituntut untuk memperluas ruang kelas menjadi sebuah "laboratorium kehidupan" yang interaktif dan mampu menyiakan generasi sesuai dengan zamannya.

Langkah ini bukan berarti menegasikan pentingnya nilai akademik, melainkan sebuah ikhtiar bersama untuk melengkapinya dengan penguatan karakter, integritas, dan kompetensi yang relevan bagi masa depan siswa. 

Sebagai wujud nyata untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna sejak pekan awal sekolah, terdapat tiga pendekatan strategis yang dapat dioptimalkan:

Pertama, Mengoptimalkan MPLS sebagai Fase Asesmen Diagnostik yang Humanis. Momen minggu pertama sekolah dapat dimanfaatkan secara strategis untuk memetakan Zone of Proximal Development (ZPD) serta kemampuan awal literasi dan numerasi setiap murid baru. 

Dengan memahami titik awal kemampuan siswa, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih personal dan tepat sasaran, sehingga tidak ada anak yang merasa tertinggal sejak awal semester.

Kedua, menyelaraskan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning). Sekolah dapat mulai memperkenalkan metode eksplorasi aktif (discovery learning) yang menghubungkan materi pelajaran dengan pemecahan masalah di lingkungan sekitar siswa. 

Melalui pendekatan proyek kelompok, aspek yang diapresiasi tidak lagi tunggal berupa angka ujian, melainkan proses kerja keras, kemampuan berkolaborasi, kreativitas, dan integritas siswa selama menyelesaikan tugas bersama.

Ketiga, memperkuat sinergi kemitraan dengan orang tua murid. Minggu pertama adalah momentum emas untuk membangun komunikasi dua arah yang positif antara sekolah dan rumah. 

Pihak sekolah dapat mengajak orang tua untuk bersama-sama membangun kebiasaan baru di rumah; dari yang semula terbiasa bertanya "dapat nilai berapa hari ini?", menjadi pertanyaan yang lebih reflektif seperti "hal baik apa yang dipelajari dan bagikan bersama teman hari ini?".

Memasuki Tahun Ajaran Baru 2026/2027, dunia pendidikan memiliki kesempatan berharga untuk menuliskan babak baru yang lebih bermakna dalam sejarah pertumbuhan anak-anak bangsa. Menjadi murid baru adalah sebuah gerbang transformasi. 

Tugas mulia para pendidik dan orang tua adalah memastikan bahwa setiap benih potensi yang dititipkan di sekolah dipupuk dengan kesabaran dan kebijaksanaan, agar kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga anggun dalam karakter dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.(*)

 

Editor : Guntur Irianto
#mpls #sekolah #kepala sekolah #opini #Hari Pertama