Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Harga Plastik Naik Signifikan, Disperindag Jatim Bongkar Penyebabnya

Mus Purmadani • Rabu, 8 April 2026 | 17:22 WIB
UNGKAP: Kepala Bidang Pengembangan PPLN Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian menyebut kenaikan harga plastik karena bahan baku.(IST/RADAR SURABAYA)
UNGKAP: Kepala Bidang Pengembangan PPLN Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian menyebut kenaikan harga plastik karena bahan baku.(IST/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Kenaikan harga plastik kemasan di Jawa Timur (Jatim) kian terasa dan mulai berdampak luas terhadap pelaku usaha, khususnya sektor industri kecil dan menengah (IKM atau UKM). Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim mencatat lonjakan harga plastik dipicu oleh naiknya harga bahan baku hingga gangguan pasokan global.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri (PPLN) Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian, mengungkapkan bahwa harga bahan baku utama plastik, yakni biji plastik, kini mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram atau naik hingga 50 persen.

“Kenaikan ini tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah Brent sebagai bahan dasar. Dari sebelumnya sekitar USD 67 per barel, kini sudah di atas USD 98 per barel, bahkan sempat menyentuh USD 115 per barel,” jelasnya kepada Radar Surabaya, Rabu (8/4). 

Baca Juga: Percepat Pengisian Jabatan Kepala Sekolah di Jatim, Dindik Cari dari Kalangan Guru

Selain itu, bahan utama plastik kemasan seperti polipropilena (PP) juga mengalami kenaikan harga sekitar 24 persen. Dampaknya, harga plastik di tingkat pedagang di Surabaya melonjak antara 30 hingga 70 persen, tergantung jenis dan bahan baku.

“Beberapa jenis plastik bahkan mulai sulit ditemukan di pasaran. Yang paling terdampak di antaranya plastik jenis PP, HD, dan PE, termasuk gelas cup, lid, tas kresek, hingga plastik kemasan berbagai ukuran,” tambahnya.

Baca Juga: Tersangka Penipuan Sembako Murah di Surabaya Ditahan Polres Tanjung Perak, Ini Pengakuannya

Berdasarkan data Geographical Industry Information System (GIIS), terdapat 427 industri plastik dan produk turunannya di Jawa Timur. Industri tersebut tersebar di wilayah Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik. Dari jumlah itu, sebanyak 298 unit merupakan IKM/UKM, sementara 129 unit merupakan industri besar.

Di sisi perdagangan luar negeri, terdapat 44 pelaku usaha ekspor plastik dan produk turunannya di Jatim. Namun, ketergantungan terhadap impor bahan baku masih cukup tinggi.

Baca Juga: Dulu Pasar Maling di Wonokromo Surabaya Hanya Buka Akhir Pekan, Rawan Barang Curian

Lucky menyebut, sekitar 50 - 60 persen bahan baku plastik di Indonesia masih berasal dari impor. Hal ini disebabkan kapasitas produksi dalam negeri yang hanya mampu memenuhi maksimal 50 persen kebutuhan.

“Nilai impor plastik dan barang dari plastik di Jawa Timur pada 2025 mencapai USD 1,43 miliar, sementara nilai ekspornya sebesar USD 317 juta. Mayoritas impor berupa biji plastik yang kemudian diolah menjadi berbagai produk,” paparnya.

Baca Juga: BMKG Ingatkan Musim Kemarau Bakal Panjang. Siaga Karhutla 2026! Kesiapsiagaan Nasional Harus Diperkuat

Adapun negara asal impor biji plastik terbesar antara lain China, negara-negara ASEAN, Amerika Serikat, hingga Arab Saudi. Bahan baku utama biji plastik, yakni nafta, sebagian besar dipasok dari kawasan Timur Tengah.

“Kondisi geopolitik di kawasan tersebut turut mempengaruhi pasokan dan harga nafta. Sekitar 70 persen pasokan berasal dari Timur Tengah, sehingga ketika terjadi ketegangan, dampaknya langsung terasa,” ujarnya.

Baca Juga: Timnas U-17 Indonesia Umumkan Skuad Final, Ini Nama-Nama yang Dibawa ke Piala AFF 2026

Di dalam negeri, pasokan juga menghadapi tantangan. Salah satu produsen utama, PT Chandra Asri Pacific Tbk, yang merupakan pabrik pengolahan nafta terbesar di Indonesia, sempat mengumumkan kondisi force majeure pada Maret lalu akibat ancaman kekurangan bahan baku.

Menghadapi situasi ini, Disperindag Jatim menyiapkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya melakukan pemantauan ketat terhadap industri, distributor, dan pedagang plastik untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah praktik penimbunan.

Baca Juga: Hotel Simpang Tempo Dulu Jadi Penginapan Elite di Tengah Kota Surabaya

Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi sumber impor dengan berkoordinasi dengan pelaku usaha agar mendatangkan bahan baku dari negara di luar wilayah konflik.

“Koordinasi juga dilakukan dengan asosiasi seperti APINDO, KADIN, dan INAPLAS agar pelaku industri bisa melakukan efisiensi biaya produksi tanpa membebani konsumen akhir,” jelasnya.

Baca Juga: Pencuri Uang Kotak Amal di Musala Jalan Maspati Surabaya Sempat Ngaku Uang Hasil Menang Judi

Di sisi lain, pelaku IKM atau UKM juga diimbau untuk mulai beralih ke kemasan alternatif seperti karton, bambu, daun pisang, maupun tas kain guna menekan ketergantungan terhadap plastik.

Tak hanya itu, edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan, baik kepada konsumen maupun pedagang di pasar modern dan tradisional, agar mengurangi penggunaan tas kresek dalam aktivitas belanja. 

"Kami berharap seluruh pihak bisa beradaptasi dengan kondisi ini, sehingga dampaknya terhadap pelaku usaha, khususnya IKM atau UKM, bisa diminimalkan,” pungkasnya. (mus/gun)

Editor : Guntur Irianto
#plastik #penyebab #naik #harga #disperindag jatim