Radar Surabaya – Kebiasaan menatap layar ponsel atau komputer dalam waktu lama kerap dianggap sebagai penyebab utama mata minus atau rabun jauh (miopi). Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Miopi dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, gaya hidup, dan lingkungan yang saling berkaitan.
Miopi merupakan kondisi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak jatuh tepat di retina, melainkan di depan retina. Hal ini umumnya terjadi karena bola mata berbentuk lebih panjang dari normal atau kelengkungan kornea yang tidak proporsional. Akibatnya, objek yang berada pada jarak jauh tampak kabur.
Selain penggunaan gawai, sejumlah faktor lain juga berkontribusi terhadap munculnya mata minus.
Faktor pertama adalah genetik atau keturunan. Seseorang memiliki risiko lebih tinggi mengalami miopi apabila salah satu atau kedua orang tuanya memiliki riwayat mata minus. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa faktor genetik memiliki peran besar dalam perkembangan gangguan refraksi ini.
Faktor berikutnya ialah kurangnya aktivitas di luar ruangan. Paparan cahaya matahari alami diketahui berperan penting dalam mendukung perkembangan mata. Sebaliknya, terlalu banyak beraktivitas di dalam ruangan dengan pencahayaan terbatas dapat meningkatkan risiko miopi, terutama pada anak dan remaja.
Selain itu, kebiasaan melihat objek pada jarak yang terlalu dekat juga dapat meningkatkan beban kerja mata. Kebiasaan membaca buku, menggunakan ponsel, atau bekerja di depan komputer tanpa menjaga jarak ideal membuat otot mata terus berakomodasi dalam waktu lama.
Faktor lainnya adalah kekurangan vitamin D. Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa rendahnya kadar vitamin D dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan refraksi, meskipun hubungan tersebut masih terus diteliti.
Meski mata minus tidak selalu dapat dicegah, terutama jika dipengaruhi faktor keturunan, risiko perkembangannya dapat diminimalkan melalui pola hidup sehat. Salah satunya dengan menjaga jarak pandang minimal 40 sentimeter saat membaca atau menggunakan gawai, memperbanyak aktivitas di luar ruangan, serta menerapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter.
Apabila mulai muncul gejala seperti sering memicingkan mata, sakit kepala, atau kesulitan melihat objek yang jauh, segera lakukan pemeriksaan ke dokter mata. Deteksi dini penting untuk menentukan penanganan yang tepat, baik melalui penggunaan kacamata, lensa kontak, maupun terapi koreksi penglihatan lainnya. (nor/fir)