Bandar Lampung – Suhita Lebah Indonesia membuktikan bahwa pengembangan usaha madu tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga dibangun melalui penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir. Berbasis di Bandar Lampung, UMKM ini mengembangkan model bisnis berkelanjutan dengan menjaga kualitas produk sejak dari kawasan hutan hingga sampai ke tangan konsumen.
Suhita Lebah Indonesia membangun rantai usaha yang terintegrasi dengan menggandeng beekeeper (peternak lebah), peneliti, serta masyarakat di sekitar hutan primer Sumatera. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pelatihan budidaya lebah, penguatan rantai pasok, sekaligus upaya konservasi untuk menjaga kelestarian habitat lebah.
Beragam produk yang dihasilkan meliputi Trigona Honey, Rain Forest Honey, dan Melifera Honey. Seluruh produk dipasarkan melalui jaringan penjualan offline maupun online dengan jangkauan pasar dari Lampung hingga berbagai daerah di Indonesia.
Owner Suhita Lebah Indonesia, Isnina, mengatakan bahwa sejak awal usahanya dirancang dengan sistem yang terintegrasi agar kualitas, mutu, dan ketelusuran produk tetap terjaga.
“Suhita Lebah Indonesia melestarikan budaya Nusantara dengan madu murni sebagai pendamping aktivitas harian. Sejak 2016, kami fokus bersama para beekeeper dan peneliti di bidang lebah dan produk turunannya, menciptakan sistem produksi terintegrasi dari hutan primer Sumatera hingga pemasaran modern, sehingga kualitas produk, mutu, dan ketelusurannya dapat terjaga. Kami juga mengajak masyarakat di sekitar hutan primer Sumatera untuk ikut serta menjadi beekeeper Suhita melalui pelatihan budidaya lebah madu, konservasi tanaman hutan, serta mempertahankan ekosistem alami lebah,” ujarnya.
Komitmen menjaga mutu produk juga diwujudkan melalui penerapan standar keamanan pangan. Suhita Lebah Indonesia telah mengantongi sejumlah sertifikasi dan izin edar, di antaranya NKV untuk madu murni nektar alami, serta sertifikasi Halal, HACCP, dan TKDN untuk produk madu olahan, campuran, maupun herbal.
Selain itu, perusahaan mengembangkan sistem produksi yang didukung rumah pengemasan berstandar keamanan pangan dan teknologi pascapanen yang lebih efisien.
“Kami memiliki farm (peternakan) milik sendiri, farm mitra, dan melibatkan petani serta beekeeper lokal yang terintegrasi dengan rumah pengemasan yang telah memenuhi standar keamanan pangan. Kami juga menerapkan teknologi penanganan pascapanen tanpa suhu tinggi melalui metode pengurangan kadar air madu, sehingga nutrisi dan mutu madu tetap terjaga sesuai standar SNI, sekaligus menjadikan proses produksi lebih cepat, hemat energi, dan ramah lingkungan,” jelas Isnina.
Perjalanan usaha Suhita Lebah Indonesia semakin berkembang setelah bergabung sebagai UMKM binaan Rumah BUMN BRI Bakauheni pada 2021. Melalui program tersebut, Isnina memperoleh berbagai pendampingan, mulai dari pelatihan daring dan luring, mengikuti BRIncubator, BRILiaNpreneur, hingga fasilitasi keikutsertaan dalam berbagai pameran dan bazar.
Tak hanya pendampingan, Suhita Lebah Indonesia juga memanfaatkan fasilitas pembiayaan BRI serta layanan QRIS BRI untuk mendukung operasional usaha sekaligus memberikan kemudahan transaksi bagi pelanggan.
Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan, kisah Suhita Lebah Indonesia menjadi contoh bagaimana ketekunan, inovasi, dan kemauan untuk terus berkembang mampu mendorong UMKM naik kelas.
“Perjalanan Suhita Lebah Indonesia menunjukkan bahwa usaha yang dibangun dengan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar dapat melangkah lebih jauh. Melalui Rumah BUMN, BRI ingin mendampingi lebih banyak pengusaha UMKM agar tumbuh semakin kuat, memperluas pasar, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” pungkas Dhanny.
Editor : M Firman Syah