RADAR SURABAYA - Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) menggelar ICDX Commodity Outlook 2026 di Jakarta, 11 Maret 2026, dengan mengambil tema “GOLD & CRUDE OIL : “Availability, Geopolitics and Global Market”.
Secara umum, ICDX Commodity Outlook ini memberikan gambaran tentang harga Komoditas Crude Oil (Minyak Mentah) dan Emas di tahun 2026 ini diperkirakan akan terus bergerak.
Selain karena ada faktor ekonomi global dan ketersediaan, juga akan dipengaruhi gejolak politik dunia khususnya ketegangan militer dan politik di kawasan timur tengah.
Outlook Komoditas Emas
Analis dari Reseach and Development ICDX Tiffani Safinia mengatakan, tahun 2025 menjadi tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade, sekaligus memperkuat perannya sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi yang relevan di tengah ketidakpastian global.
Sepanjang tahun 2025 untuk komoditas emas terdapat beberapa point penting.
Pertama, Sepanjang 2025 harga emas naik signifikan sebesar 64 persen dengan 53 all time highs.
Kedua, All time high tercatat $4,550/oz pada 26 Desember 2025.
Ketiga, Rata-rata harga sekitar $3,431/oz, dan keempat, Pembelian emas oleh bank sentral mencapai ±863 ton.
Beberapa sentime yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025 yaitu, 3 kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 bps melalui keputusan FOMC, Konflik Timur Tengah (Israel - Iran), Perang AS – Ukraina, serta Ketegangan AS – China.
Selain itu total pembelian emas oleh Bank Sentral AS hanya mencapai sekitar 863 ton, lebih rendah dibandingkan pada periode 2022–2024, serta Pergerakan dolar AS yang cenderung volatil dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga turut meningkatkan alokasi ke emas.
“Hal ini memberikan gambaran bahwa kombinasi faktor makro dan geopolitik mendorong reli emas sepanjang 2025”, ungkap Tiffani Safinia.
Tiffani menambahkan, beberapa Lembaga keuangan global telah menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun 2026, yang didorong oleh risiko geopolitik global yang persisten serta permintaan struktural dari bank sentral.
“Dalam jangka pendek, pergerakan emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, dan perkembangan konflik global. Namun secara keseluruhan, harga emas diproyeksikan berada di kisaran US$5.500–US$6.000 per troy ons hingga akhir tahun 2026, dengan volatilitas tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global” tambahnya.
Untuk tahun 2026 harga emas diproyeksikan berada di US$4.746,50 per troy ons, melonjak signifikan dibanding estimasi US$4.275 yang dirilis pada Oktober sebelumnya.
Outlook Komoditas Minyak Mentah
Sementara itu, untuk komoditas minyak mentah, analis dari Reseach and Development ICDX Girta Putra Yoga mengatakan, tahun 2025 merupakan tahun yang menantang bagi komoditas minyak mentah.
Harga rata-rata emas hitam ini mencatatkan penurunan 21 persen lebih ke level $60 per barel pada akhir penutupan 2025, dibandingkan harga rata-rata di awal tahun yang mencapai level $77 per barel.
“Harga terus menguat hingga penutupan kuartal pertama didukung oleh sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah pasca Israel melancarkan operasi “Rising Lion” ke Iran,” kata Girta.
Di tahun 2026 ini, Girta menyatakan bahwa melihat situasi dan perkembangan saat ini, diperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi kuat untuk melaju bullish hingga paruh kedua tahun ini.
Level resistance diproyeksikan akan berada di kisaran harga $95 - $100 per barel, dan level support di kisaran harga $80 - $75 per barel.
“Indikator yang dipantau masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS – Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump,” katanya.
Direktur ICDX Nursalam mengatakan, pihaknya berharap, informasi yang disampaikan dalam Commodity Outlook 2026 ini bisa menjadi referensi pelaku usaha dalam mengambil dan menentukan kebijakan strategisnya di tahun 2026 ini.
Di ICDX, untuk perdagangan multilateral telah diperdagangkan kontrak-kontrak berjangka perdagangan atas kedua komoditas minyak mentah dan emas, yang tentunya dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai.
Untuk kontrak berjangka komoditas minyak mentah dan emas, saat ini di ICDX diperdagangkan produk-produk yang diperdagangkan secara multilateral yaitu GOFX,” ungkap Nursalam.
Di ICDX sepanjang tahun 2025 tercatat transaksi multilateral atas kontrak komoditas berbasis minyak mentah mencapai 61.260 lot.
Sedangkan transaksi multilateral atas kontrak komoditas berbasis emas mencapai 1.627.698 lot.
“Adapun untuk kontrak berjangka komoditas minyak mentah, didominasi oleh kontrak COFRMic dengan transaksi sebanyak 51.548 lot,” tutup dia. (fix)
Editor : Nofilawati Anisa