Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dari Subkultur Cangkruk, Kini Jadi Fenomena Warung Kopi

Mus Purmadani • Senin, 10 Juni 2024 | 14:05 WIB
LEBIH MODERN: Bisnis warkop dalam beberapa tahun terakhir sedang menjamur di Surabaya.
LEBIH MODERN: Bisnis warkop dalam beberapa tahun terakhir sedang menjamur di Surabaya.

RADAR SURABAYA – Dalam beberapa waktu ke belakang, khususnya di Surabaya, menjamurnya warung kopi menjadi fenomena tersendiri.

Tak hanya di pusat kota, akan tetapi menjamurnya bisnis warung kopi atau warkop ini hampir merata di semua kawasan Surabaya.

Berbeda dengan warkop zaman dulu dengan tempat sederhana, seadanya, dan cenderung sempit, kini warkop yang buka justru dengan tampilan yang lebih modern, nyaman, dan luas.

Bahkan tidak sedikit warkop tersebut hadir dengan tampilan menyerupai kedai kopi modern.

Tak sedikit pula yang tempatnya cukup luas, bahkan melebihi luas kafe atau kedai kopi modern.

Menariknya, warung-warung kopi ini selalu ramai pembeli. Bangku-bangku yang disediakan bahkan tak pernah kosong.

Guru Besar Sosiologi dari Universitas Airlangga Prof Bagong Suyanto menuturkan, warung dan kedai kopi ini masuk dalam sektor informal untuk bisnis di perkotaan.

Menurutnya, tidak semua yang menjalankan usaha ini belum memiliki izin sebagai usaha formal.

“Sehingga ini menjadi pilihan yang sangat terbuka bagi orang-orang untuk memulai usaha baru. Karena modalnya tidak terlalu besar dan lebih mengandalkan kerja keras tanpa ada syarat lain yang sifatnya formal,” tuturnya.

“Ini berbeda dengan perekonomian firma yang memiliki aturan dan pranata yang ketat. Kalau warung atau kedai karena fleksibilitasnya yang menarik,” imbuhnya.

Bagong mengatakan, usaha ini pertumbuhannya seperti jamur dan kompetisinya terlalu kuat.

Artinya, cepat atau lambat yang tidak mengikuti perkembangan zaman akan tergeser.

“Fenomena warung atau kedai kopi ini lebih karena adanya subkultur cangkruk, atau pada kalangan menengah ke atas disebut hang out. Memang ada perubahan kebiasaan pada masyarakat, jika dulu lebih suka ngumpul sambil ngobrol, kalau sekarang main HP. Sehingga kalau warkop tidak ada wifi dipastikan akan tergeser,” terangnya.

Bisnis warung kopi yang kini kebanyakan dijalankan anak muda ini dianggap sangat menjanjikan.

Bisa dilihat di beberapa kawasan strategis dengan tanah kosong atau ruko kosong kini banyak dibuka warung kopi.

Ketua Dewan Kopi Jawa Timur KH Muhammad Zakki memastikan usaha kopi di pasar domestik masih menggeliat. Menurutnya, tren minum kopi ini sudah menjadi tren atau gaya hidup.

“Banyak anak muda yang terjun di dunia barista, sehingga saya rasa usaha ini memiliki prospek yang sangat bagus,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Mandiri ini mengatakan, banyaknya warung kopi dan kedai kopi harus membuat para pengusaha di bidang ini memiliki inovasi dan mengikuti perkembangan zaman.

“Misalnya tampilan warung atau kedainya harus unik. Selain itu harus didukung dengan fasilitas kekinian. Karena anak-anak muda sekarang kan suka nongkrong di warung kopi, tentunya sangat berbeda dengan warung-warung kopi zaman dahulu. Kalau kita tidak mengikuti tren, tentu akan kalah bersaing,” katanya.

Menurutnya, pemerintah pasti akan memberikan ruang bagi pengusaha warung kopi untuk memulihkan perekonomian.

Ia juga meyakini masyarakat tentunya juga sangat paham dan patuh terhadap protokol kesehatan.

“Artinya bagi pengusaha warung kopi harus tetap istiqomah menjalankan usahanya,” tuturnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Surabayapedia #kedai kopi #surabaya #Cangkruk #warkop #warung kopi