Jakarta – Gelombang demonstrasi yang melanda sejumlah kota besar Indonesia sejak Kamis (28/8) hingga Senin (1/9) meninggalkan catatan kelam. Sebanyak sembilan orang dilaporkan meninggal dunia akibat bentrokan, kericuhan, maupun dampak tidak langsung dari aksi massa yang meluas di Jakarta, Makassar, Yogyakarta, Surakarta, hingga Semarang.
Korban berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pengemudi ojek daring, pegawai negeri, hingga mahasiswa. Berikut identitas korban yang telah terkonfirmasi.
Affan Kurniawan, 21, pengemudi ojek daring, meninggal Kamis (28/8) setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di Pejompongan, Jakarta Pusat. Saat itu ia tengah mengantar pesanan, bukan mengikuti aksi.
Baca Juga: 716 Orang Jadi Korban Aksi Ricuh Jakarta, Pemprov DKI Tanggung Biaya Perawatan
Andika Lutfi Falah, 17, pelajar SMK Negeri 14 Kabupaten Tangerang, meninggal Sabtu (30/8) usai mengalami benturan benda tumpul dalam kericuhan di DPR/MPR RI, Jakarta.
Saiful Akbar, Plt Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, wafat Jumat (29/8) setelah melompat dari lantai empat Gedung DPRD Makassar yang dibakar massa.
Muhammad Akbar Basri (Abay), staf Humas DPRD Makassar, tewas terjebak api saat gedung DPRD terbakar.
Sarina Wati, staf pendamping anggota DPRD Makassar, meninggal Jumat (29/8) karena luka bakar serius akibat kebakaran gedung DPRD.
Rusdamiansyah, 25, pengemudi ojek daring, tewas dikeroyok massa di depan Universitas Muslim Indonesia, Makassar, setelah dituduh intel.
Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, meninggal Minggu (31/8) usai kericuhan di depan Mapolda DIY.
Sumari, 60, penarik becak asal Surakarta, wafat Jumat (29/8) akibat sesak napas setelah terpapar gas air mata.
Baca Juga: Polisi Korban Kerusuhan Dijanjikan Kenaikan Pangkat Oleh Presiden Prabowo
Iko Juliant Junior, mahasiswa Fakultas Hukum Unnes, meninggal Minggu (31/8) setelah sempat menuju Polda Jateng untuk menjemput rekannya yang ditahan.
Tragedi beruntun ini menimbulkan kritik tajam terhadap aparat keamanan dan penyelenggara negara. Aksi yang semula berjalan damai berujung ricuh dan merenggut korban jiwa, mayoritas masyarakat sipil yang tak bersenjata.
Pemerintah menyampaikan belasungkawa mendalam, sementara organisasi masyarakat sipil, akademisi dan aktivis HAM mendesak pembentukan tim investigasi independen untuk mengungkap fakta di balik tragedi tersebut.
Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu babak kelam demokrasi Indonesia, ketika kebebasan berpendapat justru berbayar nyawa. (mer/gab/fir)
Editor : M Firman Syah