SURABAYA - Bakcang atau bacang merupakan makanan jajanan pasar yang dibungkus daun pisang dan diikat menggunakan tali rafia. Bakcang memiliki arti yaitu bak artinya daging dan cang artinya berisi, jadi bakcang merupakan makanan berisi seperti daging ayam dan daging babi dengan memakai nasi atau ketan.
Bakcang sendiri berasal dari Tiongkok. Awalnya berasal dari seorang menteri Tiongkok bernama Quyuan yang berasal dari negara Chu dan kini disebut Hubei. Pada saat itu dari keluarganya tidak menyetujui Quyuan membela rajanya yang telah wafat. Sehingga akhirnya Quyuan membuat daging dan nasi yang dibalut dengan daun bambu dan diikat dengan tali hingga berbentuk segitiga.
Di Surabaya sendiri masih ada beberapa penjual bakcang, salah satunya yakni Bakcang Peneleh. Bakcang Peneleh sudah ada sejak tahun 1978 yang didirikan oleh pasangan suami istri di Jalan Peneleh Nomor 92.
Berawal dari Oei Kong Giok, 72, yang ingin membantu suaminya untuk menambah penghasilan untuk kebutuhan ekonomi rumah tangganya.
Sehingga Oei Kong Giok membuat bakcang dan dijual di daerah Kembang Jepun, Undaan, Tambak Bayan dan Pasar Atom. "Awalnya bantu suami untuk membantu kebutuhan ekonomi. Karena suami saat itu kerja di Mojokerto di selepan (penggilingan) beras," kata Oei Kong Giok saat ditemui di rumahnya.
Oei Kong Giok menjelaskan, saat itu bukan hanya menjual bakcang saja, namun juga bakpao. Tetapi seiringnya waktu, akhirnya bakpaonya dikurangi dan fokus ke bakcang. "Memang dulu bukan hanya bakcang tapi juga bakpao. Cuma sekarang fokus sama bakcangnya yang dikembangkan," ucap Wiwik, anak Oei Kong Giok yang menemani ibunya.
Menurut perempuan 49 tahun itu, saat ini bakcang sudah banyak variasi, mulai dari bakcang babi biasa, babi telur, ayam, kwecang, bakcang spesial, bakcang babi loh dan bakcang vegetarian.
"Semoga makanan bakcang ini bisa terus berkembang lebih maju, sekaligus melestarikan makanan tradisional leluhur," tutur Wiwik yang mempunyai lima karyawan. (jar/nur)
Editor : Lambertus Hurek