Sebagai Kota Delta, Sidoarjo memiliki potensi pertambakan yang tersebar luas dari Kecamatan Waru hingga Jabon. Peluang bisnis inilah yang dimasuki Retno Wulan Mugi Lestari untuk mengembangkan tambak udang dan bandeng di Kabupaten Sidoarjo.
"Sidoarjo itu terkenal dengan bandeng dan udang. Maka, aku awalnya berusaha mencari info bagaimana memulai usaha ini," kata Retno Wulan Mugi Lestari kepada Radar Sidoarjo, Selasa (6/3).
Akhirnya, tahun 2016, wanita yang sehari-harinya hobi mengendarai motor gede ini mulai serius terjun dalam bisnis tambak udang. Modal awal sekitar Rp 350 juta. Uang sebanyak itu untuk sewa lahan di Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, selama lima tahun.
Ibu dua anak ini mengaku menyewa lahan sekitar delapan hektare. Lahan seluas itu dibagi menjadi delapan kolam. "Yang produktif hanya enam kolam atau tiga pasang kolam. Sedangkan yang dua kolam untuk penampungan sementara," jelasnya.
Perempuan kelahiran Sidoarjo, 27 November 1983, ini mempercayakan pengelolaan tambak sehari-hari kepada dua orang pekerja. Saat panen ditambah sekitar 10 orang lagi. "Semuanya warga setempat. Sebab, saya ingin memberdayakan masyarakat sekitar," katanya.
Setiap bulan, menurut Retno, dilakukan lebon atau memasukan bibit ke satu pasang kolam. Udang pun bisa dipanen tiga bulan kemudian. "Jadi, setiap bulan ada lebon dan panen di satu pasang kolam. Kebetulan perawatannya tidak susah atau menggunakan pakan khusus. Cukup membiarkan tumbuh secara alami dengan memakan lumut yang ada di tambak," imbuh istri Iwan Setiawan ini.
Berapa omzet dari usaha tambak itu? Retno enggan membukanya secara gamblang. Dia hanya bilang lumayan. Menurut dia, keberhasilan itu juga merupakan salah satu hasil dari sedekahnya. "Karena itu, sering-sering bersedekah dan bersyukur," pungkas wanita yang juga santri Pondok Pesantren As Shofa Wal Wafa, Wonoayu, ini. (mus/rek)
Editor : Lambertus Hurek