Radar Surabaya – Langit malam yang identik dengan suasana tenang dan gelap ternyata menyimpan fenomena langka nan menakjubkan. Di bawah cahaya lembut bulan purnama, terkadang muncul lengkungan cahaya putih keperakan menyerupai pelangi. Fenomena ini dikenal sebagai moonbow atau pelangi bulan—peristiwa optik langka yang terjadi ketika cahaya bulan berinteraksi dengan butiran air di udara malam.
Fenomena pelangi malam telah lama menarik minat para pengamat langit. Sekilas mirip pelangi yang muncul setelah hujan, namun moonbow memiliki karakter unik. Warna-warnanya tampak sangat redup, bahkan sering kali terlihat putih bagi mata manusia. Melalui kamera dengan paparan panjang (long exposure), spektrum warna pelangi tersebut baru tampak dengan jelas.
Moonbow terbentuk melalui mekanisme fisika yang sama seperti pelangi siang hari, bedanya sumber cahayanya berasal dari pantulan sinar matahari oleh permukaan bulan. Ketika cahaya bulan mengenai butiran air di udara, terjadi proses pembiasan, pemantulan, dan pembelokan cahaya. Setiap tetes air bertindak sebagai prisma kecil yang memecah cahaya menjadi beragam warna.
Namun, karena intensitas cahaya bulan jauh lebih lemah dibandingkan cahaya matahari, hanya sebagian kecil cahaya yang berhasil dibiaskan, sehingga pelangi bulan tampak sangat redup. Moonbow biasanya muncul saat bulan berada pada fase purnama atau mendekatinya, langit benar-benar gelap, dan udara dipenuhi butiran air halus seperti kabut, gerimis, atau cipratan air terjun.
Untuk mengamatinya, pengamat harus membelakangi arah bulan. Dengan posisi tersebut, cahaya bulan yang dibiaskan oleh tetesan air akan membentuk busur pelangi di sisi berlawanan dari sumber cahaya.
Banyak yang mengira pelangi bulan tidak berwarna karena tampak putih atau keperakan. Padahal, warna pelangi tetap ada, hanya tidak tertangkap oleh mata manusia. Dalam kondisi minim cahaya, sel batang (rods) di retina bekerja lebih aktif dibandingkan sel kerucut (cones) yang bertugas mengenali warna. Akibatnya, mata manusia sulit membedakan warna dalam gelap.
Secara fisika, moonbow tetap memiliki spektrum lengkap merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu namun hanya kamera dengan teknik long exposure yang mampu menangkapnya secara utuh. Karena itu, foto-foto moonbow sering menampilkan pelangi berwarna penuh, sementara mata telanjang hanya melihat busur cahaya putih.
Secara ilmiah, moonbow dan pelangi siang hari memiliki perbedaan mendasar. Pelangi biasa terbentuk dari cahaya matahari yang terang pada siang hari, sedangkan moonbow muncul dari cahaya pantulan bulan yang jauh lebih lemah.
Pelangi siang hari biasanya muncul setelah hujan deras dan tampak cerah di langit tinggi. Sementara moonbow muncul pada malam gelap dengan udara lembap, sering kali di sekitar air terjun. Warnanya tidak secerah pelangi siang, bahkan kadang hanya terlihat sebagai busur cahaya keperakan yang lembut.
Syarat Terjadinya Moonbow
Fenomena ini memerlukan kondisi alam yang sangat spesifik. Bulan harus berada pada fase purnama atau mendekati purnama agar memancarkan cukup cahaya. Langit harus benar-benar gelap tanpa polusi cahaya buatan seperti lampu kota, dan di sisi berlawanan dari bulan harus terdapat sumber uap air seperti kabut, gerimis, atau air terjun.
Kombinasi faktor tersebut membuat moonbow jarang terlihat di kawasan perkotaan. Fenomena ini lebih mudah dijumpai di lokasi terpencil dengan langit gelap dan udara lembap, seperti pegunungan atau hutan tropis.
Beberapa lokasi di dunia dikenal sebagai titik ideal untuk menyaksikan pelangi bulan. Di antaranya Air Terjun Yosemite di Amerika Serikat, Air Terjun Cumberland di Kentucky, Air Terjun Victoria di perbatasan Zambia dan Zimbabwe, hingga Hutan Berkabut Costa Rica.
Di Indonesia, potensi kemunculan moonbow juga ada di daerah pegunungan dengan udara lembap dan minim cahaya buatan, seperti Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang atau Air Terjun Sipiso-piso di Sumatra Utara. Namun, kondisi cuaca tropis dan polusi cahaya membuat fenomena ini sangat jarang teramati secara langsung.
Masyarakat kerap keliru mengira cincin cahaya di sekitar bulan sebagai pelangi malam. Padahal, fenomena tersebut disebut lunar ring atau cincin bulan. Cincin bulan terbentuk akibat pembiasan cahaya oleh kristal es di lapisan atas atmosfer dan muncul melingkar sempurna di sekitar bulan berbeda dari moonbow yang berbentuk busur di sisi berlawanan dari cahaya bulan.
Moonbow bukan sekadar keindahan optik, tetapi juga bukti menakjubkan dari interaksi sederhana antara cahaya dan air. Dalam gelapnya malam, cahaya lembut bulan mampu menciptakan pelangi yang jarang terlihat oleh mata manusia.
Bagi fotografer alam, moonbow adalah momen yang layak diburu. Bagi ilmuwan, ia menjadi contoh sempurna penerapan prinsip pembiasan dan refleksi cahaya. Dan bagi siapa pun yang beruntung menyaksikannya secara langsung, moonbow menjadi pengingat bahwa keindahan alam tidak hanya hadir di siang hari, tetapi juga bersembunyi dalam diamnya malam. (wid/fir)
Editor : M Firman Syah