Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Rahasia Api Biru Gunung Ijen, Keajaiban Alam Indonesia yang Mendunia

Muhammad Firman Syah • Minggu, 28 September 2025 | 16:54 WIB
Api biru di Kawah Ijen, Banyuwangi, fenomena langka akibat pembakaran gas belerang yang hanya bisa terlihat jelas pada malam hari.
Api biru di Kawah Ijen, Banyuwangi, fenomena langka akibat pembakaran gas belerang yang hanya bisa terlihat jelas pada malam hari.

Radar Surabaya – Malam di kawasan Gunung Ijen selalu menghadirkan pesona khas. Ratusan pendaki memulai perjalanan dini hari, menembus dinginnya udara dan kabut tipis di jalur pendakian. Tujuan mereka serupa, menyaksikan fenomena langka yang jarang ditemui di belahan dunia lain, api biru atau blue fire. Dari bibir kawah, cahaya biru itu menyala terang, menari di antara bebatuan belerang dalam gulita malam.

Berbeda dengan lava pijar yang berwarna merah-oranye, nyala api biru hanya terlihat saat gelap. Ketika fajar tiba, cahaya itu perlahan memudar, berganti dengan panorama danau kawah berwarna toska. Karena itu, pendakian biasanya dilakukan tengah malam demi menangkap momen singkat nan memukau ini.

Fenomena api biru tak lepas dari sejarah geologi Ijen. Sekitar 50 ribu tahun lalu, letusan besar Gunung Ijen Purba membentuk kaldera raksasa berdiameter hampir 20 kilometer. Ledakan itu meninggalkan cekungan yang kemudian terisi air dan membentuk danau kawah berwarna hijau kebiruan, ikon Ijen hingga kini.

Energi panas dari letusan purba tetap tersimpan di kedalaman bumi. Panas inilah yang menjaga aktivitas vulkanik Ijen, mengeluarkan gas belerang dari celah-celah kawah yang aktif setiap saat.

Gas belerang bersuhu hingga 600 derajat Celsius muncul dari rekahan kawah. Saat bertemu oksigen di udara, gas tersebut terbakar spontan dan menghasilkan nyala api biru terang.

Kadang, aliran belerang cair ikut mengalir di permukaan tanah. Saat terbakar, aliran itu menyerupai lava pijar, tetapi berwarna biru elektrik yang hanya tampak jelas di malam hari. Tidak seperti lava merah-oranye yang berasal dari batuan cair, api biru Ijen sepenuhnya berasal dari pembakaran gas belerang.

Fenomena ini hanya bisa dinikmati saat gelap. Begitu matahari terbit, cahaya biru memudar, tergantikan panorama danau kawah yang mempesona.

Antara Keindahan dan Realitas Tambang

Selain menarik wisatawan, Kawah Ijen juga menjadi lokasi penambangan belerang tradisional. Para penambang setiap hari turun ke kawah, mengangkat bongkahan belerang kuning dengan risiko besar, udara beracun, medan curam, dan beban berat di punggung.

Belerang hasil tambang digunakan untuk berbagai industri, mulai dari kosmetik, pupuk, hingga bahan kimia. Ijen pun menjadi cermin paradoks, keindahan alam yang berpadu dengan kerasnya perjuangan hidup manusia.

Api biru tidak hanya ada di Ijen. Fenomena serupa ditemukan di Dallol, Ethiopia, dan beberapa lokasi vulkanik di Islandia. Namun, Kawah Ijen dianggap paling dramatis karena mudah diakses dan berpadu dengan danau kawah luas berwarna toska. Keunikan ini membuat Ijen dikenal luas hingga ke mancanegara.

Wisata, Ekologi, dan Pelestarian

Fenomena api biru telah menjadikan Ijen magnet wisata internasional. Ribuan turis datang setiap tahun untuk menyaksikannya. Namun, peningkatan kunjungan membawa tantangan konservasi. Aktivitas wisata yang masif perlu diimbangi dengan pelestarian lingkungan dan penelitian geologi-ekologi demi menjaga keseimbangan eksploitasi, konservasi, dan edukasi.

Api biru Ijen bukan hanya atraksi wisata, melainkan laboratorium alam yang menunjukkan kekuatan geologi dan dinamika bumi. Fenomena ini mengingatkan bahwa keindahan sering lahir dari proses alam yang keras dan penuh energi.

Api biru adalah simbol warisan alam yang tak ternilai, yang harus dijaga, dinikmati dengan bijak, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#api biru #kawah ijen #banyuwangi #gunung ijen #blue fire