Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Rujak Cingur Makanan Rakyat Surabaya yang Pernah Dikaitkan dengan Raja Firaun, Ini Penjelasannya

Muhammad Firman Syah • Jumat, 19 September 2025 | 05:04 WIB
Rujak Cingur kuliner khas Surabaya
Rujak Cingur kuliner khas Surabaya

Radar Surabaya – Rujak cingur hari ini dikenal sebagai salah satu kuliner paling otentik khas Surabaya. Paduan sayuran, buah segar, lontong, tahu-tempe, dan irisan moncong sapi yang disiram bumbu kacang petis dengan tambahan pisang kluthuk, menjadikannya hidangan dengan cita rasa kompleks, manis, asam, asin, sekaligus pedas. Namun, di balik kenikmatan itu, jejak sejarahnya menyimpan kisah unik yang kerap diperdebatkan.

Beberapa tahun lalu, publik sempat heboh dengan narasi daring yang menyebut rujak cingur berasal dari Mesir. Konon, hidangan ini pertama kali diciptakan oleh seorang bernama Abdul Rojak pada masa Firaun Hanyokrowati.

Ia menyajikan makanan berbungkus daun pisang yang langsung memikat sang raja. Berkat kepiawaiannya, ia diberi hadiah kapal laut, lalu berlayar hingga ke Tanjung Perak, Surabaya. Dari situlah kabarnya resep rujak cingur tersebar. Cingur onta dalam versi asli kemudian diganti dengan cingur sapi, menyesuaikan bahan yang tersedia di Nusantara. Kata “rujak” sendiri dipercaya berasal dari nama “Rojak”.

Kisah itu memang menarik, tapi belakangan diragukan kebenarannya. Media yang semula menuliskannya bahkan sempat mencabut kembali berita tersebut. Meski demikian, legenda itu tetap memperkaya khazanah cerita di balik rujak cingur.

Versi lain menyebut rujak cingur lahir dari kreativitas pedagang Jawa Timur yang mencoba memadukan rujak buah dengan “djanganan” atau sayur rebus. Eksperimen itu ternyata digemari, lalu menjadi tradisi kuliner turun-temurun. Antropolog Universitas Brawijaya bahkan menyebut, keisengan pelanggan yang mencampur dua jenis makanan itu bisa jadi akar lahirnya rujak cingur.

Secara etimologis, “cingur” dalam bahasa Jawa berarti “mulut”, merujuk pada moncong sapi yang telah direbus hingga empuk. Bagian inilah yang menjadi pembeda utama rujak cingur Surabaya dengan ragam rujak lain di Nusantara.

Seiring waktu, popularitas rujak cingur makin meluas. Lagu “Rek Ayo Rek” ciptaan Is Haryanto yang populer pada 1970-an bahkan ikut mengabadikan kuliner ini dalam baitnya. Puncaknya, pada 1986, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur bersama Kanwil Deparpostel Jatim menggelar Festival Makanan Khas Jawa Timur dan menetapkan rujak cingur sebagai salah satu ikon kuliner daerah.

Hingga kini, rujak cingur tak hanya menjadi menu sehari-hari warga Surabaya, tetapi juga ikon pariwisata kuliner Jawa Timur. Salah satu tempat legendaris yang bertahan adalah Rujak Cingur Genteng Durasim yang sudah ada sejak 1940-an.

Lebih dari sekadar makanan, rujak cingur adalah cerita tentang sejarah, kreativitas, dan identitas. Dari kisah Mesir hingga geliat kuliner di Gang Durasim, Surabaya, rujak cingur tetap lengket di hati sama lengketnya dengan saus petis yang jadi ciri khasnya. (mer/fir)

 

Editor : M Firman Syah
#surabaya #mesir #rujak cingur #kuliner #firaun