RADAR SURABAYA - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bersama romo dukun dan tokoh masyarakat Tengger sepakat mengubah penyebutan tiga lokasi wisata di kawasan wisata favorit di Jatim tersebut ke nama aslinya.
Pengembalian penyebutan nama asli tiga lokasi wisata di kawasan Gunung Bromo tersebut sebagai upaya untuk pelestarian budaya lokal.
Tiga lokasi wisata yang dikembalikan namanya ke nama asli itu adalah Bukit Teletubies, Bukit Cinta, dan Bukit Kingkong.
"Bukit Teletubies dikembalikan menjadi Lembah Watangan, karena berdasarkan sejarahnya lokasi itu merupakan dataran rendah yang pada seribu tahun yang lalu ditumbuhi pepohonan vegetasi asli Tengger," kata Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Septi Eka Wardhani, di Malang, Minggu (18/8).
Dijelaskan, pepohonan di Bukit Teletubbies awalnya dalam kondisi sangat terjaga, hingga akhirnya roboh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
"Banyaknya pohon watang yang roboh di lokasi tersebut, maka dinamakan Lembah Watangan," ujarnya.
Kemudian untuk Bukit Cinta, Septi menyatakan lokasi tersebut dikembalikan sesuai nama aslinya menjadi Lemah Pasar. "Lemah Pasar nama aslinya adalah Pasar Agung yang merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan upacara," ucapnya.
Septi menyatakan, untuk Bukit Kingkong yang memiliki nama asli Bukit Kedaluh berasal dari dua kata bahasa Sansekerta, yaitu Kada dan Luh. "Kada artinya merindukan dan Luh artinya pemberi hujan atau Dewa Indra. Oleh karena itu Kadaluh artinya merindukan pemberi hujan dengan harapan kesuburan untuk wilayah Tengge."
Septi menjelaskan, deklarasi pengembalian penamaan tiga lokasi wisata di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dilakukan setelah upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-79 tahun Republik Indonesia, di Laut Pasir Bromo.
"Ditandai dengan pembacaan deklarasi oleh Kartono dan penandatanganan Deklarasi oleh Plt Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, romo dukun Tengger, tokoh masyarakat Tengger, serta seluruh pejabat administrator," kata dia.
Selain itu, TNBTS bersama pihak terkait juga meresmikan signage atau papan tanda yang telah diganti menggunakan nama lokal, yaitu pada lokasi Lembah Watangan.
Ia berharap upaya pelestarian budaya ini didukung upaya dari banyak pihak dengan melakukan sosialisasi tiga lokasi itu sesuai dengan nama aslinya.
"Mulai dari instansi pemerintah sampai wisatawan turut mempublikasikan nama lokal tersebut," tuturnya. (jpc/ant/jay)
Editor : Jay Wijayanto