SURABAYA - Potensi market food & beverage (F&B) di Surabaya yang cukup besar membuat pengusaha kuliner terus melakukan ekspansi bisnis. Salah satunya dilakukan Petarung Group yang membuka gerai Mala Jia di Surabaya Barat.
Steven Tjan, Founder Petarung Group, mengatakan, Mala Jia merupakan makanan yang aslinya berasal dari China. Namun konsep restaurant Mala Jia justru berkembang pesat di Malaysia. Sebab itu, pihaknya melakukan kerjasama dengan Malaysia.
“Kami kerjasamanya di konsepnya saja. Namanya beda. Di Malaysia namanya bukan Mala Jia. Kami pakai nama Mala Jia biar lebih muda diingat khususnya di Surabaya. Kami bidik segmen mid class baik family, professional, ekspatriat maupun lainnya,” kata Steven Tjan, Rabu (26/7).
Dikatakan bagi Petarung Group ini merupakan gerai resto café yang ke-9. Sebelumnya sudah sukses mengembangkan berbagai brand resto café seperti Tobby’s Estate, Kalimera, Gioi, Mala Jia dan beberapa yang lain.
Dia yakin Mal Jia akan mendapat respin bagus dari konsumen. Pasalnya, pihaknya menyediakan sejumlah menu favorit dengan taste berbeda. Misalnya bagi yang tidak suka pedas disediakan menu untuk mereka. Bagi yang suka pedas ada pilihan mulai dari mild, medium, spicy hingga extreme. Enam menu utamanya adalah mala dry wok, salted egg, garlic fried, mala soup, chicken soup dan suan cai soup.
Konsepnya juga menarik. Konsumen ambil sendiri sejumlah bahan makanan seperti sayuran, jamur, bakso, sosis, ikan laut, mie dan banyak lagi lainnya. Kemudian ditimbang dan dierahkan ke chef untuk dimasak sesuai selera konsumen. Setelah menuggu beberapa saat makanan sudah siap dinikmati.
“Kami berikan yang terbaik untuk konsumen mulai yang harga affordable hingga yang premium. Minimum order 250 gram. Harga per 10 gram Rp 31 ribu. Selama promo hanya Rp 26 ribu. Tapi untuk item tertentu seperti smoke duck, udang windu, abalone dan kepiting Jepang itu masuk premium,” tambahnya.
Diakui, Mala Jia baru pertama kalinya di buka di Indonesia. Namun jika respond bagus, maka tidak menutup kemungkinan akan dibuka di beberapa kota lain termasuk Jakarta, Jogjakarta dan Malang. Sebab market makanan tertentu di Malang dan Jogjakarta justru lebih bagus dibandingkan di Surabaya. “Yang jelas bulan depan kami akan buka dua brand lagi di Surabaya. Ini brand baru,” ujarnya.
Dia mengaku, meskipun konsep makanan diimpor dari luar, namun hampir 90 persen bahan bakunya menggunakan asli produk Indonesia. Selain menggandeng sejumlah supplier, pihaknya juga melibatkan banyak petani di Malang dan Batu seperti jamur, wortel, sawi putih, sawi hijau. Yang masih impor tidak lebih dari 10 persen seperti daging sapi, tempe dan beberapa yang lain.
“Target kami ada 300 item bahan makanan disini. So far masih 200 item. Kami datangkan terus ingredient biar orang nggak bosan. Kami juga datangkan chef langsung dari Malaysia untuk menjaga rasanya. Sedangkan tenaga kerjanya 90 persen dari Surabaya. Sisanya baru dari luar kota,” pungkas Steven. (fix)
Editor : Jay Wijayanto