Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Prediksi Otomatisasi 18 Bulan, AI Picu Ketegangan Baru di Pasar Kerja

Muhammad Firman Syah • Selasa, 17 Februari 2026 | 10:58 WIB

CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman memprediksi sebagian besar pekerjaan white collar akan terotomatisasi dalam 12–18 bulan, memicu kekhawatiran baru di pasar tenaga kerja global.
CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman memprediksi sebagian besar pekerjaan white collar akan terotomatisasi dalam 12–18 bulan, memicu kekhawatiran baru di pasar tenaga kerja global.

RADAR SURABAYA – Gelombang pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) makin memperketat persaingan industri teknologi global. Peluncuran agen AI terbaru dari Anthropic yang diklaim mampu menangani tugas profesional kompleks langsung memicu kekhawatiran di pasar.

Sentimen itu tidak hanya memengaruhi investor, tetapi juga pekerja sektor perkantoran yang mulai mempertanyakan masa depan profesinya. Isu otomatisasi kembali mengemuka setelah sejumlah petinggi teknologi menyampaikan proyeksi agresif terkait dampak AI terhadap tenaga kerja.

Baca Juga: Di Tengah Gempuran AI dan Hoaks, Menkomdigi Tegaskan Peran Vital Pers

CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, memprediksi sebagian besar pekerjaan white collar berpotensi terotomatisasi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Ia menilai model AI saat ini berada di ambang kemampuan “setara manusia” dalam hampir seluruh tugas profesional.

Pekerjaan seperti pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga pemasaran disebut memiliki banyak tugas rutin yang bisa digantikan sistem berbasis AI dalam waktu relatif singkat.

Baca Juga: 5 AI yang Membantu Mahasiswa Belajar Lebih Efektif

Pandangan serupa disampaikan CEO Anthropic, Dario Amodei. Ia sebelumnya menyebut AI berpotensi menghapus hingga 50 persen pekerjaan entry-level white collar. Sementara CEO OpenAI, Sam Altman, menilai AI memang akan menghilangkan sejumlah kategori pekerjaan tertentu, meski di saat bersamaan juga menciptakan peran baru.

Di internal Microsoft, perubahan mulai terasa. Perusahaan mengklaim lebih dari seperempat kode kini ditulis dengan bantuan AI. Peran engineer pun bergeser, dari sekadar menulis kode menjadi lebih fokus pada debugging, perancangan arsitektur sistem, serta implementasi produksi.

Baca Juga: Peran AI di Dunia Pendidikan, Bantu Guru Mengajar Lebih Adaptif

Namun, percepatan adopsi ini juga memunculkan istilah “AI washing”, yakni penggunaan narasi transformasi AI sebagai dalih efisiensi biaya, termasuk pengurangan tenaga kerja.

Transformasi tersebut menandai bahwa perdebatan bukan lagi soal apakah AI akan memengaruhi pasar kerja, melainkan seberapa cepat dan sejauh mana pergeseran itu terjadi. Dengan proyeksi 18 bulan yang disampaikan para pemimpin industri, dunia kerja kini memasuki fase ketidakpastian baru di era otomatisasi. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#AI #Open AI #kerja #Anthropic #pasar kerja