RADAR SURABAYA - Ketegangan militer antara China dan Amerika Serikat memasuki babak baru. Analis pertahanan meyakini China tengah merancang strategi serangan awal yang menargetkan jet tempur AS sebelum sempat mengudara.
Taktik ini meniru pola konflik modern seperti yang dilakukan Israel, Rusia, dan India, yang memprioritaskan penghancuran landasan pacu musuh untuk melumpuhkan kekuatan udara sejak dini.
Sebagai respons terhadap kekuatan militer dan pertahanan China, perusahaan teknologi pertahanan asal San Diego, Shield AI, memperkenalkan X-BAT, jet tempur otonom yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan (AI).
Tidak seperti jet konvensional, X-BAT mampu lepas landas secara vertikal tanpa landasan pacu, GPS, atau koneksi komunikasi konstan.
Sistem otonomi bernama Hivemind memungkinkan pesawat ini berpikir, membaca situasi, dan bereaksi terhadap ancaman secara mandiri.
X-BAT dirancang untuk beroperasi dari kapal, pulau kecil, atau lokasi darurat yang tidak dapat dijangkau oleh jet biasa.
Dengan kemampuan terbang hingga 2.000 mil laut dan ketinggian 50.000 kaki, pesawat ini dapat menjalankan misi serangan dan pertahanan udara secara fleksibel.
Shield AI menargetkan X-BAT siap tempur pada 2029, dengan biaya produksi jauh lebih rendah dibanding jet g.
Strategi militer China yang menargetkan jet tempur AS sebelum lepas landas memicu inovasi baru dalam teknologi pertahanan Amerika.
X-BAT hadir sebagai solusi asimetris yang mampu beroperasi tanpa infrastruktur konvensional, memberi keunggulan mobilitas dan daya tahan di medan tempur yang kompleks.
Meski ketegangan antara AS dan China belum mengarah pada konflik terbuka, para pakar menilai eskalasi diplomatik dan militer akan terus meningkat.
Dalam lanskap geopolitik yang semakin dinamis, inovasi seperti X-BAT menjadi penentu arah baru dalam pertahanan udara dan strategi global. (trn/nur)
Editor : Nurista Purnamasari