RADAR SURABAYA - Surabaya saat ini identik dengan gemerlap cahaya. Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) berdiri rapat di hampir setiap sudut kota, menerangi jalan protokol hingga gang permukiman.
Namun, siapa sangka, Kota Pahlawan pernah melewati masa-masa gelap gulita, jauh sebelum teknologi lampu listrik seperti sekarang hadir.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menuturkan bahwa pada masa awal, penerangan jalan di Surabaya belum mengenal listrik.
Lampu jalan kala itu masih menggunakan bahan bakar minyak kelapa, dengan cahaya temaram yang hanya cukup menerangi beberapa langkah kaki.
“Benar, dulu penerangan jalan di Surabaya menggunakan lampu berbahan bakar minyak kelapa,” kata Nanang, Jumat (26/12).
Menariknya, menurut Nanang, pengelolaan dan pengerjaan penerangan jalan tersebut pada masa kolonial banyak diborong oleh orang-orang Tionghoa.
Mereka bertugas memasang, merawat, hingga menyalakan lampu-lampu minyak setiap sore dan mematikannya kembali saat pagi tiba.
Pada masa itu, lampu jalan bukan sekadar fasilitas kota, melainkan simbol peradaban.
Seiring perkembangan zaman, Surabaya perlahan beralih dari lampu minyak ke lampu gas, lalu lampu listrik.
Transformasi ini menjadi bagian dari modernisasi kota yang terus berjalan hingga kini.
Dari cahaya redup minyak kelapa, Surabaya beranjak menjadi kota metropolitan dengan ribuan PJU berbasis listrik, bahkan energi terbarukan.
“Perubahan penerangan jalan ini juga mencerminkan perubahan wajah Surabaya, dari kota pelabuhan kolonial menjadi kota modern,” imbuh Nanang.
Kini, di tengah terang benderang lampu PJU yang menyala sepanjang malam, jejak sejarah itu nyaris terlupakan.
Namun, kisah tentang Surabaya yang pernah gelap gulita menjadi pengingat bahwa cahaya kota hari ini lahir dari perjalanan panjang peradaban, kerja keras, dan sejarah yang patut dikenang. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa