RADAR SURABAYA - Perjalanan hidup presiden pertama Indonesia, Soekarno tak hanya diwarnai perjuangan dan romantisme, tetapi juga semangat nasionalisme yang berkobar.
Semangat tersebut, menurut pengamat sejarah Surabaya, Purnawan Basundoro, dipengaruhi oleh Kota Surabaya dan sosok HOS Tjokroaminoto.
Purnawan menyebut, periode 1916-1921 sebagai masa keemasan pembentukan jiwa Soekarno di Surabaya.
"Surabaya saat itu menjadi dapur nasionalisme. Pemikiran nasionalisme Soekarno dan semangat melawan penjajahan Belanda terbentuk di sini," jelas Guru Besar Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.
Pada awal abad ke-20, Surabaya berkembang pesat sebagai pusat industri, terutama di kawasan Jalan Dapuan, Jalan Gatotan, dan Ngagel.
Perkembangan ini melahirkan kelas sosial baru, buruh. Mayoritas buruh saat itu memiliki tingkat pendidikan rendah dan berada dalam kondisi ekonomi lemah.
"Saat sensus penduduk, hanya 17 persen warga Surabaya yang bersekolah. Soekarno memperhatikan kondisi buruh yang terpinggirkan ini," ungkap Purnawan.
Situasi sosial ekonomi Surabaya juga diwarnai protes keras dari masyarakat yang tinggal di tanah partikelir.
Mereka menolak perlakuan semena-mena tuan tanah yang menggusur penduduk untuk membangun perumahan dan pertokoan.
"Tokoh pergerakan seperti Pak Siti (Sadikin) dan Prawirodirdjo membela rakyat yang tergusur hingga ke Landraad (kini Pengadilan Negeri Surabaya)," tambah Purnawan.
Puncaknya, pada 1916, pengadilan memenangkan gugatan masyarakat, melarang penggusuran paksa di lahan partikelir.
Menurut Purnawan, pengalaman dan pengamatan Soekarno terhadap ketidakadilan sosial di Surabaya ini turut membentuk semangat nasionalismenya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari