RADAR SURABAYA - Di kawasan Ketintang, Gayungan, Surabaya dahulu terdapat pabrik gula (Suikerfabriek) Ketintang.
Bekas lokasi pabrik tersebut kini menjadi salah satu perumahan di Ketintang.
Namun, masih ada salah satu peninggalanya yaitu alat produksi berupa penggilingan tebu kuno yang ditaruh di Jalan Ketintang Barat V sekitar lokasi bekas pabrik.
Untuk pabrik gula Ketintang sendiri belum diketahui pasti didirikan pertama kali tahun berapa.
Pemerhati pabrik gula tempo dulu Agung Widyanjaya mengatakan, Suikerfabriek Ketintang atau pabrik gula Ketintang tahun 1870 dimiliki oleh Oi Tjik Tjoen.
Kemudian, pada tahun 1879-1888 dimiliki oleh Liem Bon Liong. Tahun 1889 sampai 1903 dimilik The Twan Tjauw dan Lim Toan Kioe.
Selanjutnya tahun 1904 dimiliki Thei Tjoe Liong dan Tjoa Sin Hie yang juga pemilik pabrik gula Darmo.
Kemudian pada tahun 1905 dimiliki The Tjwan Tjao dan Liem Toan Kioe. Selanjutnya pada tahun 1906-1920 dimiliki Tan Kiem Tjan.
"Tan Kiem Tjan itu memodernisasi pabrik gula, di pabrik gula Ketintang. Dia membeli pabrik gula Gadoengan sama Karah, kemudian dipusatkan di Ketintang. Modernisasi dilakukan di pabrik gula Ketintang oleh Tan Kim Tjan tadi," ujarnya.
Dia menambahkan, harapan modernisasi itu dilakukan supaya ada pabrik gula di Surabaya kapasitas produksinya bisa melebihi pabrik gula Waru di Sidoarjo.
"Pada kenyataanya terjadi hal tak terduga seperti adanya pemberontakan kemudian kondisi musim tidak menentu sehingga pabrik gula Ketintang ini setelah dimodernisasi kapasitas produksinya tidak mencapai. Maksudnya dimodernisasi itu alat penggilingan tebu dari (mesin) uap," bebernya.
Ia melanjutkan tidak jauh dari lokasi bekas pabrik gula Ketintang terdapat sebuah alat gilingan tebu yang berasal dari Cina.
"Ini memperkuat bahwa pabrik gula Ketintang dulu awalnya didirikan menggunakan alat gilingan tebu yang digerakkan tenaga hewan. Ini sama dengan yang ada di SMA Trimurti. Harusnya ada dua, cuma di sini ada satu," sebutnya.
Agung menerangkan alat penggilingan tersebut berasal dari Guangzou Cina.
Batunya terbuat dari batu alam. Penggunaan alat penggilingan tradisional itu dahulu digerakkan dengan tenaga hewan.
"Bekas pabriknya sekarang sudah menjadi perumahan, tapi ini bukti otentik pernah ada pabrik gula Ketintang," tegasnya.
Pegiat Sejarah dari Begandring Soerabaia Navy Pattiruhu menambahkan alat penggilingan tebu kuno itu dalam bahasa Belanda dinamakan Chinesse Molen. "Di situ cuma satu aja, aslinya dua," singkatnya. (rus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari