RADAR SURABAYA - Warga Jawa Timur belakangan merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga menjelang pagi. Suhu udara di beberapa wilayah bahkan tercatat turun hingga sekitar 18 derajat Celsius. Kondisi tersebut merupakan fenomena bediding, yakni udara dingin yang umum terjadi pada musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi menjelang puncak musim kemarau. Prakirawan BMKG Juanda, Trya Chandra, mengatakan udara dingin yang dirasakan masyarakat bukan merupakan gejala cuaca ekstrem, melainkan bagian dari siklus musim yang terjadi setiap tahun.
Baca Juga: BRI Perkuat Ekonomi Desa Lewat Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Bandung Barat
Menurut Trya, fenomena ini dipengaruhi oleh angin monsun timur yang bertiup dari Benua Australia. Angin tersebut membawa massa udara yang kering dan relatif dingin menuju wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Selain itu, minimnya tutupan awan pada musim kemarau membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara turun lebih cepat dibandingkan saat musim hujan.
"Juga akibat pelepasan radiasi matahari ke atmosfer secara maksimal karena tidak adanya tutupan awan saat musim kemarau," ujar Trya.
Ia menjelaskan, besarnya penurunan suhu dipengaruhi oleh kondisi cuaca, banyaknya tutupan awan, kecepatan angin, serta karakteristik masing-masing wilayah.
Di wilayah dataran rendah, suhu udara pada malam hingga menjelang pagi umumnya berkisar antara 18 hingga 22 derajat Celsius. Sementara itu, di kawasan dataran tinggi, suhu dapat turun hingga 15 sampai 18 derajat Celsius, bahkan lebih rendah pada kondisi tertentu.
Baca Juga: 5 Faktor yang Mendorong Adopsi Blockchain oleh Perusahaan Besar
BMKG memperkirakan fenomena bediding masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Meski udara terasa lebih dingin, kondisi tersebut merupakan fenomena normal sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.
Namun demikian, perubahan suhu yang cukup signifikan antara siang dan malam dapat memengaruhi kondisi tubuh, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki daya tahan tubuh rendah. Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kesehatan agar tidak mudah terserang penyakit.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengenakan pakaian hangat atau jaket saat beraktivitas pada malam hingga pagi hari, terutama ketika berada di luar ruangan. Masyarakat juga dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak minum air putih meski cuaca terasa dingin, serta mengonsumsi buah dan sayuran untuk menjaga daya tahan tubuh.
Selain itu, tidur yang cukup, rutin berolahraga, dan menjaga kebersihan lingkungan juga penting dilakukan agar tubuh tetap bugar selama musim kemarau. Bagi penderita asma, alergi, atau gangguan saluran pernapasan, penggunaan masker saat udara berdebu juga disarankan karena musim kemarau umumnya disertai meningkatnya debu di udara. (*)
Editor : Lambertus Hurek