Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Alarm untuk Orang Tua, Anak Terlalu Dini Bermedsos Rentan Jadi Korban Predator Digital

Rahmat Sudrajat • Jumat, 12 Juni 2026 | 17:09 WIB
ALARM: Ilustrasi anak memakai gadget untuk bermedsos.
ALARM: Ilustrasi anak memakai gadget untuk bermedsos.

RADAR SURABAYA - Di balik kemudahan berkomunikasi dan derasnya arus informasi, media sosial menyimpan ancaman serius bagi anak-anak.

Tidak hanya berisiko menjadi sasaran predator digital, anak yang terlalu dini terpapar media sosial juga rentan mengalami gangguan kesehatan mental hingga kehilangan kemampuan bersosialisasi secara langsung.

Baca Juga: Lawan Penipuan Digital, Pemerintah Wacanakan Akun Medsos Wajib Nomor Telepon

Peringatan itu disampaikan Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dra. Rachmah Ida, MComms, PhD, dalam momentum Hari Media Sosial Nasional yang diperingati setiap 10 Juni.

Menurut Prof Ida, anak-anak saat ini tumbuh di tengah derasnya arus media sosial. Sayangnya, banyak orang tua yang justru memperkenalkan dunia digital kepada anak sebelum mereka memiliki kematangan berpikir dan kemampuan memahami risiko yang ada di dalamnya.

Baca Juga: Atasi Kecanduan Medsos, Ini Strategi Agar Minat Belajar Kembali Meningkat

“Anak-anak sekarang tumbuh bersama media sosial. Padahal, orang tua merupakan teladan utama yang seharusnya membentuk nilai, karakter, dan cara anak memahami lingkungan sosialnya,” ujarnya, Jumat (12/6).

Ia menjelaskan, ruang digital menyimpan berbagai ancaman yang sering luput dari perhatian. Salah satunya adalah kejahatan siber yang menyasar anak-anak, seperti predator digital dan eksploitasi anak yang memanfaatkan data pribadi yang tersebar di internet.

Baca Juga: Uang Endorsement Digelapkan, Fuji An Laporkan Admin Medsosnya

Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga berpotensi mengganggu kesehatan mental generasi muda. Anak-anak yang terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar berisiko mengalami kecemasan, ketergantungan terhadap gawai, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

“Media sosial membuat sebagian anak merasa cukup dengan dunianya di gawai. Akibatnya, mereka berisiko mengalami keterasingan sosial karena berkurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Baca Juga: Jual Bubuk Bahan Peledak Petasan lewat Medsos, Polda Jatim Tangkap Dua Warga Sidoarjo 

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menghambat perkembangan kemampuan anak dalam membangun relasi, menumbuhkan empati, serta mengasah keterampilan komunikasi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam jangka panjang, paparan media sosial yang tidak terkontrol juga dapat membentuk karakter yang lebih individualistis. Anak menjadi kurang peka terhadap perasaan orang lain dan mengalami kesulitan memahami emosi di lingkungan sosialnya.

Karena itu, Prof Ida menegaskan bahwa keluarga memiliki peran paling penting dalam membangun kebiasaan bermedia sosial yang sehat. Orang tua tidak cukup hanya memberikan akses gawai, tetapi juga harus aktif mendampingi, mengawasi, dan mengajarkan anak memahami manfaat serta risiko dari setiap konten yang dikonsumsi.

Selain keluarga, sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat interaksi sosial secara langsung. Melalui kegiatan belajar dan pengembangan karakter, siswa perlu didorong untuk lebih banyak berdiskusi, berkolaborasi, dan berinteraksi di dunia nyata, bukan hanya melalui layar ponsel.

Ia juga menekankan pentingnya literasi digital sebagai bekal menghadapi era informasi saat ini. Literasi digital mencakup kemampuan menyaring informasi, mengenali sumber yang kredibel, menjaga keamanan data pribadi, serta melawan hoaks dan manipulasi informasi yang semakin marak beredar di media sosial.

Sementara itu, Pemerintah Kota Surabaya telah mengambil langkah konkret melalui kebijakan Gerakan Surabaya Tanpa Gawai yang diberlakukan setiap hari pukul 18.00 hingga 20.00 WIB. Program tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan anak terhadap perangkat digital sekaligus mengembalikan kualitas interaksi dalam keluarga.

Langkah itu dinilai sejalan dengan upaya membangun generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan bersosialisasi, empati, dan kedekatan dengan lingkungan sekitarnya. (rmt/vga)

 

Editor : Vega Dwi Arista
#anak #orang tua #Digital #medsos #Usia Dini