RADAR SURABAYA -- Ancaman kebakaran di Kota Surabaya semakin mengkhawatirkan. Sepanjang Mei 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya mencatat 22 kejadian kebakaran dengan empat korban meninggal dunia. Korsleting listrik masih menjadi penyebab paling dominan.
Data DPKP Surabaya menunjukkan, hubungan arus pendek listrik dan api terbuka masing-masing memicu lima kejadian kebakaran selama Mei 2026. Sementara 12 kasus lainnya masih dalam proses penyelidikan petugas.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran DPKP Surabaya M Rokhim mengatakan, sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan permukiman dan bangunan usaha yang memiliki instalasi listrik padat namun minim perawatan.
“Penyebab yang sudah teridentifikasi paling banyak memang korsleting listrik dan api terbuka. Sementara sisanya masih dalam proses penyelidikan,” kata Rokhim saat dikonfirmasi, Rabu (3/6).
Dari total kejadian tersebut, sebanyak 11 kebakaran terjadi pada objek bangunan seperti rumah tinggal, rumah toko, hingga pertokoan. Selain itu, petugas juga menangani delapan kebakaran nonbangunan yang terdiri atas kebakaran semak alang-alang, tumpukan sampah, serta objek lainnya.
Tak hanya itu. Tiga kendaraan juga dilaporkan terbakar, yakni dua sepeda motor dan satu unit mobil. Total kerugian material akibat seluruh kejadian tersebut ditaksir mencapai Rp 453 juta.
Baca Juga: Seru! Hotel Horison Arcadia Ajak Warga Jelajahi Rahasia Kota Lama Surabaya
Yang paling memprihatinkan, empat korban jiwa seluruhnya berasal dari insiden kebakaran bangunan. Korban pertama merupakan pasien yang meninggal dunia saat kebakaran melanda lantai lima Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) pada 15 Mei 2026.
Kemudian dua korban lainnya ditemukan dalam peristiwa kebakaran rumah toko pada 25 Mei 2026. Sementara korban keempat merupakan seorang lanjut usia yang meninggal dalam kebakaran ruko di kawasan Sidoyoso Wetan pada 31 Mei 2026.
Rokhim mengakui korsleting listrik hingga kini masih menjadi ancaman utama kebakaran di Surabaya, terutama di kawasan permukiman padat penduduk. Kondisi instalasi listrik yang sudah tua, penggunaan steker bertumpuk, hingga beban listrik berlebih menjadi faktor yang paling sering ditemukan petugas di lapangan.
Menurut dia, pihak DPKP sebenarnya rutin memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan kebakaran. Namun, kelalaian penggunaan listrik rumah tangga masih sering terjadi.
“Imbauan sebenarnya sudah sering kami sampaikan, seperti tidak menumpuk steker listrik melebihi kapasitas, mematikan peralatan listrik saat meninggalkan rumah, dan memastikan instalasi listrik dalam kondisi aman,” jelasnya.
DPKP pun mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap potensi kebakaran, khususnya menjelang musim cuaca tidak menentu yang rawan memicu gangguan instalasi listrik.
Selain memastikan kondisi kabel dan perangkat elektronik tetap layak pakai, warga juga diminta tidak meninggalkan sumber api terbuka tanpa pengawasan demi mencegah kebakaran yang berpotensi memakan korban jiwa. (dim)
Editor : Lambertus Hurek