RADAR SURABAYA - Pengalaman berbeda dirasakan Pater Nus Narek SVD, imam asal Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), selama menjalankan misi pelayanan di Kongo, Afrika. Salah satu yang paling mencolok adalah durasi perayaan Ekaristi yang jauh lebih panjang dibandingkan di Indonesia.
Pater Nus mengungkapkan, misa hari Minggu di wilayah pelayanannya rata-rata berlangsung paling sedikit tiga jam. Sementara itu, pada perayaan besar seperti Natal dan Paskah, durasi misa bahkan bisa mencapai lima jam.
Baca Juga: Tragedi Viral di Puncak Gunung Lawu: Pendaki Baku Hantam Gara-Gara Rebutan Spot Foto
“Umat di sini sangat menikmati perayaan Ekaristi. Walaupun lama, mereka tetap penuh semangat dari awal sampai akhir,” ungkapnya.
Menurutnya, lamanya misa tidak terasa membosankan karena diwarnai dengan berbagai unsur budaya lokal yang hidup, terutama tarian dan nyanyian. Hampir di setiap bagian misa, umat terlibat aktif dengan bernyanyi, bertepuk tangan, serta menggerakkan tubuh mengikuti irama.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat lagu Kemuliaan atau Gloria. Pada bagian ini, umat menyanyi dengan penuh sukacita, diiringi tarian dari para penari liturgi. Bahkan, imam bersama para petugas liturgi ikut menari mengelilingi altar.
Tak hanya itu, suasana semakin semarak ketika memasuki bagian persembahan. Umat maju satu per satu ke altar sambil membawa persembahan, diiringi nyanyian dan tarian yang menggambarkan kegembiraan mereka.
“Perayaan Ekaristi di sini sangat unik, seru, dan penuh sukacita. Semua umat benar-benar terlibat,” ujar Pater Nus.
Kondisi ini sangat berbeda dengan kebiasaan di Surabaya. Di kota tersebut, misa hari Minggu umumnya berlangsung sekitar 60 hingga 75 menit. Sementara misa hari raya seperti Natal biasanya paling lama sekitar 90 menit.
Perbedaan ini, menurut Pater Nus, menunjukkan kekayaan ekspresi iman di berbagai belahan dunia. Jika di Indonesia perayaan cenderung lebih singkat dan tertata, di Afrika justru lebih ekspresif dan penuh gerak.
Meski demikian, ia melihat bahwa inti perayaan tetap sama, yakni ungkapan iman dan sukacita umat kepada Tuhan. “Yang penting bukan soal lama atau singkatnya, tetapi bagaimana umat sungguh terlibat dan merayakan iman mereka,” katanya.(*)
Editor : Lambertus Hurek