Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengapa Menguap Bisa Menular Ini Penjelasan Ilmiahnya

M Firman Syah
Penulis: M Firman Syah❯
Ternyata, kebiasaan ikut menguap saat melihat orang lain melakukannya bukan cuma sekadar tertular! Foto: Ist.
Ternyata, kebiasaan ikut menguap saat melihat orang lain melakukannya bukan cuma sekadar tertular! Foto: Ist.

Advertisement

Radar Surabaya – Pernah merasa tiba-tiba ikut menguap setelah melihat teman, anggota keluarga, atau bahkan orang asing menguap? Fenomena tersebut merupakan hal yang umum terjadi. Bahkan, sekadar membaca atau memikirkan tentang menguap terkadang sudah cukup memicu refleks serupa.

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai contagious yawning atau menguap menular. Fenomena tersebut telah lama menjadi perhatian para peneliti karena berkaitan dengan cara kerja otak dan interaksi sosial manusia.

Salah satu penjelasan ilmiahnya berkaitan dengan peran sel saraf cermin (mirror neurons). Saat seseorang melihat orang lain menguap, sel saraf cermin di otak akan aktif dan mengirimkan sinyal untuk meniru tindakan tersebut. Proses ini berlangsung secara otomatis dan termasuk dalam kategori echophenomena, yaitu refleks meniru gerakan atau perilaku orang lain tanpa disadari.

Advertisement

Selain faktor neurologis, menguap yang menular juga dikaitkan dengan empati dan kedekatan emosional. Sejumlah penelitian menunjukkan seseorang cenderung lebih mudah tertular menguap dari orang yang memiliki hubungan dekat, seperti anggota keluarga atau sahabat, dibandingkan dengan orang yang tidak dikenal.

Respons tersebut terjadi karena mekanisme social mirroring atau peniruan sosial bekerja lebih aktif pada individu yang memiliki tingkat empati tinggi. Fenomena serupa tidak hanya ditemukan pada manusia, tetapi juga pada sejumlah hewan sosial seperti simpanse, monyet, dan anjing.

Secara biologis, menguap merupakan refleks alami tubuh yang diduga membantu mendinginkan suhu otak sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Ketika terjadi secara berkelompok, refleks ini diyakini berperan menyelaraskan tingkat kesiagaan dan pola aktivitas anggota kelompok.

Advertisement

Meski masih terus diteliti, para ilmuwan sepakat bahwa menguap bukan sekadar tanda mengantuk. Refleks ini merupakan bagian dari mekanisme biologis dan sosial yang menunjukkan keterkaitan antara fungsi otak, empati, serta perilaku manusia dalam berinteraksi. (nor/fir)

Advertisement

Artikel Terkait

Fenomena Bediding di Surabaya, Dokter Ingatkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantung

Fenomena Bediding di Surabaya, Dokter Ingatkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantung

Fenomena bediding di Surabaya membuat suhu udara lebih dingin. Dokter mengingatkan penderita hipertensi dan penyakit jantung agar lebih waspada serta menjaga daya tahan tubuh

Musim Bediding di Jawa Timur hingga Agustus, BMKG Sebut Fenomena Normal saat Musim Kemarau

Musim Bediding di Jawa Timur hingga Agustus, BMKG Sebut Fenomena Normal saat Musim Kemarau

Warga Jawa Timur belakangan merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga menjelang pagi. Suhu udara di beberapa wilayah bahkan tercatat turun hingga sekitar 18 derajat Celsius. Kondisi ters

Deadline Mepet Justru Bikin Semangat, Fenomena yang Banyak Dialami Gen Z

Deadline Mepet Justru Bikin Semangat, Fenomena yang Banyak Dialami Gen Z

Banyak generasi muda mengaku baru merasa termotivasi bekerja saat deadline semakin dekat. Meski mampu meningkatkan fokus dan produktivitas dalam waktu singkat, kebiasaan ini juga berisiko memicu stres dan kelelahan menta

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer