RADAR SURABAYA - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, suasana berbeda tampak di Klenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto, Surabaya.
Para petugas klenteng sibuk melakukan pembersihan rupang-rupang atau patung dewa sebagai bagian dari tradisi tahunan menyambut Imlek.
Kegiatan ini tidak sekadar bersih-bersih biasa. Pengelola Klenteng Hong San Ko Tee, Robertus, menjelaskan bahwa pembersihan rupang memiliki makna spiritual dan dilakukan sesuai dengan aturan tradisi yang sudah turun-temurun.
“Kalau secara kepercayaan, kemarin tanggal 10 malam (Selasa) secara ritual para dewa telah naik ke langit. Artinya rupang-rupang ini sekarang kosong, dan kita bisa mencucinya serta bersih-bersih. Karena sebelumnya kita tidak boleh melakukan bersih-bersih dalam satu tahun,” ujar Robertus, Rabu (12/2).
Menurut dia, pembersihan rupang merupakan bentuk pengabdian umat kepada para dewa.
Prosesnya pun dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Untuk rupang yang terbuat dari porselen, petugas menggunakan sabun khusus. Setelah itu, rupang dibilas menggunakan air kembang.
“Kalau secara tradisi, membersihkan ini adalah bentuk pengabdian kita,” tambahnya.
Jumlah rupang di klenteng tersebut cukup banyak, dengan berbagai ukuran. Karena itu, proses pembersihan membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Namun, jika banyak petugas yang membantu, pekerjaan bisa selesai dalam sehari.
Tidak hanya rupang yang dibersihkan. Seluruh area klenteng juga turut dibersihkan dalam rangka menyambut perayaan Tahun Baru Imlek.
Harapannya, dengan kondisi klenteng yang bersih dan rapi, keberkahan dan rezeki dapat mengalir lancar di tahun yang baru.
“Kegiatan ini kita lakukan dalam waktu satu minggu sebelum perayaan Imlek. Jadi kita tidak bisa asal-asalan mencuci rupang. Semua yang terlibat sudah berpengalaman untuk meminimalkan kerusakan,” jelas Robertus.
Sebelum proses pembersihan dimulai, para petugas dan pengurus klenteng terlebih dahulu menggelar sembahyang bersama.
Doa tersebut dipanjatkan untuk memohon restu agar seluruh rangkaian pembersihan berjalan lancar.
“Jadi sifatnya seperti izin kepada dewa sebelum kita membersihkan rupang,” tandasnya. (sam)
Editor : Nofilawati Anisa