RADAR SURABAYA - Ribuan ikan ditemukan mati mengambang di aliran Kali Surabaya yang melintasi Desa Wringinanom, Gresik. Peristiwa ini terjadi sejak Senin (19/5) dan memicu kekhawatiran soal krisis lingkungan yang bisa berdampak langsung ke jutaan warga.
Tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) yang melakukan investigasi mendapati kadar oksigen terlarut (DO) hanya 0,1 mg/L. Angka ini jauh di bawah batas aman 4 mg/L untuk sungai kelas 2 sesuai PP 22 Tahun 2021.
"Ikan yang mati didominasi rengkik, keting, bader putih, dan bader merah. Ini spesies indikator. Kalau mereka mati, berarti pencemaran sudah parah," kata peneliti Ecoton, Alaika Rahmatullah, Selasa (20/5).
Menurut Alaika, kadar DO yang sangat rendah menandakan air nyaris tak layak bagi kehidupan biota. Penyebab utamanya diduga karena limbah organik, limbah industri, dan rusaknya vegetasi di bantaran sungai.
"Kematian ikan ini bukan cuma soal lingkungan. Ini juga sinyal krisis kesehatan dan ancaman terhadap sumber air baku," tegasnya.
Ecoton menyebut sungai kini sudah jadi zona abu-abu yang lepas dari pengawasan. Apalagi jelang musim kemarau, debit air menurun sementara pembuangan limbah terus berlangsung.
Beberapa masalah struktural disebut memperburuk kondisi, mulai dari lemahnya penegakan hukum, minimnya transparansi data kualitas air, tumpang tindih pengawasan antarinstansi, hingga kurangnya keterlibatan publik.
Kali Surabaya sendiri merupakan sumber air baku utama bagi Kota Surabaya. "Pencemaran ini berdampak langsung pada keamanan air minum. Penelitian kami sebelumnya juga menunjukkan adanya mikroplastik dan logam berat di air sungai dan biotanya," kata Alaika.
Ecoton mendesak adanya investigasi menyeluruh, moratorium izin pembuangan limbah, serta pembenahan sistem pengawasan air sungai. Mereka juga menyerukan kolaborasi pemerintah, industri, dan masyarakat untuk menyelamatkan Kali Surabaya.
"Ini bukan kejadian musiman, tapi akibat gagalnya tata kelola sungai. Kalau tak dibenahi, akan terus terulang," tutup Alaika. (*)
Editor : Lambertus Hurek