Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sepi, Pedagang Mengeluh Daya Beli Masyarakat di Pasar Tradisional di Surabaya Turun

Rahmat Sudrajat • Jumat, 18 Oktober 2024 | 15:40 WIB
SEPI PEMBELI: Beberapa pasar di kota Surabaya alami penurunan daya beli.
SEPI PEMBELI: Beberapa pasar di kota Surabaya alami penurunan daya beli.

RADAR SURABAYA - Pedagang pasar tradisional di kota Surabaya mengeluh karena merasakan penurunan daya beli masyarakat sejak beberapa sebulan terakhir.

Kebutuhan pokok yang mengalami penurunan daya beli seperti telur ayam, beras, daging sapi maupun ayam.

Menurut salah satu pedagang daging di Pasar Soponyono, Rungkut Surabaya, Darkim menjelaskan, penurunan daya beli dengan adanya sisa produk tidak terjual dirasakan sejak sebulan terakhir.

Biasanya, dia mampu menjual 50 kilogram dalam sehari, beberapa waktu terakhir berkurang seperempatnya.

”Sekarang ya 30-35 kilogram saja, padahal stok barang ada dan cukup,” kata Darkim, Jumat (18/10).

Untuk mengantisipasi kebusukan daging karena tidak laku terjual, dia  memutuskan untuk mengurangi jumlah kulak. Soal harga, kenaikan cenderung sedikit namun berkala.

”Naiknya harga itu kisaran Rp 500-1000, tapi terus terusan sampai harga kisaran Rp 34-35 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Meski demikian, Darkim mengaku belum mengetahui penyebab utama penurunan daya beli itu. Khususnya di sektor pasar tradisional.

Selain itu, pedagang ayam potong Pasar Semolowaru, Surabaya Prioaji Pambudi mangatakan, penurunan daya beli yang tampak dari sisa penjualan juga tingkat kunjungan pasar cenderung sepi.

Dia mengaku, sempat mencari tahu apakah kondisi pasarnya sama dengan pasar yang lain.

”Beberapa sempat mengungkapkan yang sama, padahal stok dan lainnya cukup aman,” kata Prioaji.

Penurunan daya beli itu tampak dari stok barang dan produk yang dijual.

Jika momen momen lain, produk yang dijual laku keras. Justru beberapa waktu ini cenderung sisa.

”Akhir-akhir ini harga ayam potong juga naik, Rp 5 ribu perkilogramnya,” tuturnya.

Sebagai Ketua Koperasi Pasar Semolowaru Dadi Rukun (SDR), dia dan pedagang lainnya juga memutar otak untuk membuat program menarik. Setidaknya dengan program tersebut dapat mengundang hadirnya pengunjung lebih banyak lagi.

Di Pasar Pucang Anom Surabaya juga merasakan hal sama. Tak sebatas komoditas daging ayam. Beberapa penjual daging sapi juga memilih tutup lebih cepat.

”Produknya habis, karena bawa sendikit, padahal harganya cukup normal,” ungkap Anwar pedagang daging sapi pasar Pucang Anom.

Penurunan daya beli tak hanya dilihat dari pasar tradisional. Namun program pasar murah yang diselenggarakan pemkot Surabaya.

Seperti halnya yang terselenggara di Kelurahan Rungkut Kidul. Beberapa komoditas sisa lebih banyak.

Seperti daging ayam hanya terjual 2 kilogram dan sisanya 8 kilogram dengan harga jual Rp 29 ribu perkilogramnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#surabaya #pasar tradisional #pembeli #pasar pucang #pedagang #daya beli turun #daging #Pasar Soponyono