SURABAYA - Grand opening Surabaya Night Zoo (SNZ) pada Minggu (25/6) lalu masih memerlukan evaluasi. Salah satunya masih banyak pengunjung yang bersuara keras. Padahal, konsep SNZ harus hening seperti layaknya di habitat asli satwa di hutan pada malam hari.
Tak hanya itu. Masih banyak pengunjung yang merokok dan menggunakan flash ketika memotret. Dirut Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya (KBS) Khoirul Anwar mengakui masih banyak kekurangan saat pembukaan SNZ. Sehingga, pihaknya akan melakukan evaluasi.
"Kemarin masih banyak kekurangannya. Pengunjung masih keras-keras suaranya, ada yang merokok dan menggunakan flash. Jadi, kami langsung action agar pembukaan ke depan bisa lebih baik," kata Khoirul, Selasa (27/6).
Dia menjelaskan, konsep yang ditawarkan di SNZ adalah pengunjung bisa menikmati suasana malam hari bersama satwa lebih smooth, tidak berisik, dan lebih mengenal satwa nokturnal. "Kalau konsep ini sudah terbentuk di pengunjung, maka tematik edukasi akan terlaksana dengan baik. Memang butuh pemahaman dan bertahap," jelasnya.
Saat grand opening lalu, dari 220 orang yang melakukan booking tiket hanya 120 orang yang diperbolehkan untuk menikmati KBS malam hari. "Sisanya 100 orang akan kami ikut sertakan Sabtu atau Minggu depan. Karena ada pembatasan dari protokoler saat pembukaan," ujar Khoirul.
Dari luas KBS sekitar 15 hektare, hanya 7 persen area yang digunakan untuk SNZ. Karena itu, manajemen KBS berencana melakukan pengembangan zona. Saat ini ada delapan zona yang sudah digunakan. "Kita masih gunakan 5-7 persen. Tapi tetap yang utama animal welfare," terangnya.
Rencananya, setiap dua bulan sekali akan ada perubahan tematik mulai welcoming, fire of dance, host, tampilan dengan maping lighting yang terkait dengan riwayat satwa. "Setelah pengunjung memahami satwa nokturnal baru nanti setiap bulan kita ubah tematiknya," tutur Khoirul.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Surabaya Alfian Limardi menilai tidak ada perubahan signifikan dari mulai trial, soft opening hingga grand opening. Padahal, pihak dewan sudah memberikan masukan. "Seperti lampu penerangan kelap-kelip yang di atas tidak diperlukan. Seharusnya dipasang di bawah. Selain itu, suara host yang menggunakan Toa terlalu keras," kata Alfian.
Sejumlah kekurangan itu, menurut Alfian, akan dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur agar segera ditindaklanjuti. "Intinya, Surabaya Night Zoo butuh perbaikan," pungkasnya. (rmt/rek)
Editor : Jay Wijayanto