Sekretaris Komisi C DPRD Kota Surabaya Agoeng Prasodjo mengatakan, akhir tahun lalu, di lapangan masih banyak proyek yang belum selesai. Hal ini yang perlu dilakukan eveluasi agar di tahun ini ketika ada pengerjaan proyek u-ditch atau saluran segera dilakukan lelang lebih awal. "Lelang harus sedini mungkin, sehingga pengerjaannya cepat rampung," kata Agoeng, Senin (2/1).
Disampaikan bahwa pengerjaan proyek besar pada tahun lalu yang ada di 56 titik sampai ada kontraktor yang diputus kontraknya atau di-black list gegara pengerjaan yang tidak rampung sesuai target.
Ia juga meminta Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya untuk memilih kontraktor atau rekanan yang lebih kompeten. Hal itu bisa dilihat dari track record atau kredibilitas dari kontraktor misalnya dari segi keuangan di bank.
Kondisi keuangan kontraktor, menurut Agoeng, sangat berpengaruh dalam menyelesaikan pengerjaan proyek. Misalnya untuk membeli material. "Ya pengaruh, karena semua yang dipesan itu langsung bayar cash. Misal material untuk u-ditch, kan banyak yang pesannya molor dan terlambat bayarnya (kontraktor)," ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga meminta Pemkot Surabaya dalam hal ini DSDABM untuk tidak membayarkan terlebih dulu di depan kepada kontraktor. "Jangan bayar di depan atau diberi uang muka. Ketika sudah dikerjakan baru bayar berapa persennya. Makanya saya minta untuk melihat kondisi keuangan kontraktor dulu setelah menang tender pengerjaan," tegas politisi Golkar tersebut.
Untuk kontraktor yang sudah di-black list tahun lalu, ia mengimbau agar pemkot tidak lagi menggunakan jasanya. Meskipun telah berganti bendera. "Kalau bisa yang di-black list orangnya, bukan perusahaannya," ujarnya.
Perencanaan rencana detail tata ruang, menurut Agoeng, juga perlu diperhatikan dalam pembangunan. Misalnya untuk u-ditch saluran yang berkapasitas besar perlu dilihat kekuatannnya ketika dilintasi kendaraan. "Rencana detail tata ruang juga harus dilihat. Jangan sampai tiba-tiba ambles," ujarnya.
Sementara itu Kabid Pematusan DSDABM Surabaya Eko Juli Prasetyo mengakui bahwa ke depan, pihaknya harus mencari rekanan proyek atau kontraktor yang kompeten. Meski nantinya akan dilakukan lelang proyek secara terbuka. "Ke depan kami harus selektif," akunya.
Sedangkan untuk pengerjaan yang belum rampung tersebut, menurut dia, akan dilakukan lelang kembali. "Untuk pengerjaan lanjutan kami coba untuk menunggu lelang terbuka tahun depan. Sembari kami rapikan sisa proyek yang tinggal sedikit tuntas," terang Eko.
Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya terkait kontrak yang wanprestasi. "Kami akhirnya mem-black list kontraktor yang tidak bisa memenuhi target pengerjaan dan kami putus kontraknya. Namun tetap kami bayarkan haknya sesuai dengan kontrak space yang dikerjakan. Itu sudah aturannya," tuturnya. (rmt/jay) Editor : Administrator