Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Respons GGA, Dewan Minta Dinkes Buat Hotline dan Imbau Masyarakat Tidak Panik 

Administrator • Sabtu, 22 Oktober 2022 | 18:02 WIB
Photo
Photo
SURABAYA - Penyakit gagal ginjal akut (GGA) yang menyerang anak-anak masih terus diwaspadai, terutama di Surabaya. Agar kasus tersebut tidak meledak seperti halnya Covid-19.  Meski belum ada laporan tentang kasus tersebut di Surabaya. DPRD kota Surabaya meminta masyarakat untuk tidak panik.


Bahkan Komisi B DPRD kota Surabaya sudah menggelar koordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Surabaya,  Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim dan  Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi)  dalam rangka menyipaki penyakit gagal ginjal akut yang menyerang anak-anak, Jumat (21/10).


Ketua Komisi D, Khusnul Khotimah, meminta Dinkes kota Surabaya untuk membuat hotline khusus yang bisa dihubungi oleh warga Surabaya. Apabila ada kasus penyakit gagal ginjal akut pada anak. Agar ada penanganan langsung.


"Dinkes kita dorong juga membuat hotline center, agar bisa segera dimanfaatkan masyarakat apabila ada indikasi kasus yang mengarah kepada gagal ginjal. Selain itu, sosialiasi mengenai apa itu gagal ginjal akut juga penting dilakukan Dinkes Surabaya, termasuk cara-cara pencegahannya,"kata Khusnul, Jumat (21/10).


Pihaknya juga meminta masyarakat  untuk tidak panik dan tetap tenang dalam menyikapi munculnya penyakit gagal ginjal akut, yang menyerang pada anak-anak ini. Meski demikian ia juga meminta orang tua selalu waspada ketika  buah hatinya terserang mual, muntah, batuk, flu dan terus mengantuk. "Karena merupakan gejala ke arah penyakit gagal ginjal akut,"tutur Khusnul.


Pihaknya juga mendorong Dinkes untuk koordinasi dengan Dispendik terkait upaya preventif di sekolah. "Kami juga mendorong dinkes untuk berkoordinasi dengan dinas pendidikan dalam rangka upaya preventif, promotif di lingkungan sekolah,"tutur Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya ini


Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Sri Setyani mengaku pihaknya belum menerima data dari Kemenkes karena setiap ada rujukan di RS, pihak RS langsung melaporkan ke Kemenkes. "Dari laporan Rumah Sakit (RS) kemudian dikaji oleh Kemenkes apakah itu gangguan ginjal suspect atau probable. Dari situlah kami tahu datanya. Sampai sekarang kami belum menerima data atau laporan,"ungkap Sri.


Lebih lanjut ia menjelaskan apabila ada laporan nantinya dari Kemenkes pihaknya akan melakukan penyelidikan epidemiologi. Dalam penyelidikan itu, akan diidentifikasi penggunaan obat dalam 2 minggu terakhir yang dikonsumsi oleh pasien tersebut.


"Kami akan lakukan penyelidikan epidemiologi. Hasil identifikasi obat yang dikonsumsi akan kami kirim ke laboratorium untuk diteliti,"terangnya. Terkait penarikan obat sirup untuk anak-anak yang mengandung paracetamol. Ia mengaku telah memberikan pembinaan kepada apotek dan toko obat untuk sementara tidak menjual obat secara bebas. "Sudah kami berikan imbauan dan pembinaan. Apabila ada yang masih beredar (obat sirup) kami akan tindaklanjuti,"ujar Sri.


Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Kota Surabaya Didi Dewanto, selama ini kasus gagal ginjal masih banyak yang dirawat di RSUD Soetomo. Ada 14 kasus yang saat ini tengah ditangani. Meski demikian pihaknya telah memberikan imbauan kepada seluruh RS yang ada di kota Surabaya terutama yang mempunyai unit Hemodialisa (cuci darah) untuk siaga.


"Sudah kami siapkan seluruh RS di Surabaya. Tapi sejauh ini masih di RSUD Soetomo. Ada sekitar 14 kasus anak-anak di bawah 10 tahun yang terserang,"kata Didi. Ia menyebut adanya kasus tersebut dikarenakan penggunaan obat sirup. Sehingga obat sirup yang ada di pasaran perlu ditarik sementara.


Ketua 1 IDAI Jatim dr. Sasongko mengaku pihaknya sampai saat ini masih menunggu data rill dari Kemenkes. Meski demikian ia mengaku angka kasus gagal ginjal pada anak terus berkembang. "Angkanya terus berkembang berapa yang  masuk kita belum punya data yang kongkrit dan yang berhak merilis adalah Dinkes," kata dr. Sasongko. (rmt/jay)
Editor : Administrator
#Gagal Ginjal Akut #Hearing Komisi D #Dinkes Surabaya #idai #dprd surabaya