Kepala Forcester BMKG Tanjung Perak Muhammad Arif Wiyono menjelaskan, penyebab banjir rob dipicu adanya fase bulan baru yang terjadi di bulan Desember. Ketinggian air laut mencapai 130-150 sentimeter dari biasanya yang hanya 120-130 sentimeter. Sedangkan di daratan genangannya 10-30 cm.
"Jadi, cukup tinggi banjir robnya. Apalagi dipicu dengan hujan dengan intensitas tinggi yang akhir-akhir sering terjadi pada malam hari," katanya, Kamis (2/11).
Lebih lanjut, ia menjelaskan, wilayah pesisir Surabaya yang akan terdampak yakni pesisir Surabaya Barat, Tanjung Perak, Surabaya Timur hingga pesisir Madura. Diperkirakan terjadinya kenaikan air ke permukaan daratan terjadi pukul 21.00 hingga 24.00. "Jadi, jarak bulan ke bumi ini sangat dekat sehingga memicu tingginya air laut yang menyebabkan rob,” katanya.
Karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat di pesisir Surabaya untuk waspada. Para nelayan sudah disosialisasi untuk mewaspadai banjir rob. Saluran air juga dibersihkan agar tidak ada sumbatan yang menyebabkan banjir.
"Sudah kami informasikan ke grup WhatsApp (WA) binaan kami dan masyarakat pesisir Surabaya untuk mewaspadai banjir rob yang terjadi tanggal 2 hingga 7 Desember," ungkapnya.
Sementara itu, Pemkot Surabaya terus bekerja keras agar musim hujan tidak menimbulkan petaka. Wakil Wali Kota Surabaya Armudji mengungkapkan, sejauh ini masih ditemukan 462,64 hektare wilayah genangan. "Tentu ini harus segera ditangani," katanya.
Armudji menjelaskan, pihaknya terus berupaya mengurangi area genangan. Berbagai langkah sudah dilakukan untuk mengendalikan genangan air. Di antaranya, membuat sarana prasarana serta normalisasi saluran pematusan.
Sejauh ini pemkot sudah membangun boezem sebagai tangkapan air. Luas waduk yang sudah dibuat sekitar 124,78 hektare. Selain itu, ada peningkatan kapasitas pompa, pembangunan rumah pompa baru, tanggul laut dan mengembangkan sistem pemantauan ketinggian muka air. "Titik genangan sudah jauh berkurang di wilayah barat dan timur," katanya. (rmt/rek) Editor : Lambertus Hurek