Menghabiskan waktu di warkop memang menjadi fenomena sendiri di masyarakat. Baik itu bagi mereka yang hanya ingin menikmati kopi, menghabiskan waktu luang, menikmati istirahat di sela pekerjaan, atau mereka yang justru menikmati mengerjakan pekerjaan mereka dari warung kopi.
Ya, warkop tak hanya milik buruh dan pekerja rendahan saja, para pegawai kantor, pemerintahan, ojek online, hingga para wirausahawan sukses turut berbaur di sana. Berbagai macam obrolan hadir di sana, mulai dari bercandaan hingga yang serius, bahkan obrolan bisnis.
Ketua Dewan Kopi Jawa Timur KH Muhammad Zakki menuturkan, warkop memang tidak dapat lepas dari kehidupan sosial masyarakat, khususnya di Kota Pahlawan.
“Kalau saya melihat, saat ini ada pertumbuhan yang sangat luar biasa. Ini terlihat dari banyaknya warung dan kedai kopi mulai buka,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Mandiri ini mengatakan, banyaknya warung kopi dan kedai kopi harus membuat para pengusaha di bidang ini memiliki inovasi dan mengikuti perkembangan zaman.
“Misalnya tampilan warung atau kedainya harus unik. Selain itu harus didukung dengan fasilitas kekinian. Karena anak-anak muda sekarang kan suka nongkrong di warung kopi, tentunya sangat berbeda dengan warung-warung kopi zaman dahulu. Kalau kita tidak mengikuti tren, tentu akan kalah bersaing,” katanya.
Hal senada juga disampaikan pakar sosiologi dari Universitas Airlangga Bagong Suyanto. Menurutnya warung dan kedai kopi ini masuk dalam sektor informal untuk bisnis di perkotaan. Tidak semua yang menjalankan usaha ini belum memiliki izin sebagai usaha formal.
Bagong mengatakan, usaha ini pertumbuhannya seperti jamur dan kompetisinya terlalu kuat. Artinya cepat atau lambat yang tidak mengikuti perkembangan zaman akan tergeser. “Fenomena warung atau kedai kopi ini lebih karena adanya subkultur cakruk, atau pada kalangan menengah ke atas disebut hang out. Memang ada perubahan kebiasaan pada masyarakat, jika dulu lebih suka ngumpul sambil ngobrol, kalau sekarang main HP. Sehingga kalau warkop tidak ada wifi dipastikan akan tergeser,” pungkasnya. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek