Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ditolak Bidan Desa, Nekat Persalinan Mandiri, Bayinya Meninggal

Administrator • Senin, 15 Juni 2020 | 14:42 WIB
Ditolak Bidan Desa, Nekat Persalinan Mandiri, Bayinya Meninggal
Ditolak Bidan Desa, Nekat Persalinan Mandiri, Bayinya Meninggal

GRESIK - Seorang bayi di Dusun Bendil, RT Desa Kepatihan Kecamatan Menganti meninggal dunia karena tidak mendapatkan layanan persalinan dari bidan desa.


Informasi yang dihimpun di lapangan, Sulistiyowati, ibu korban yang hamil tua mengalami kesakitan diarea perut pada pukul 23.00 WIB. Handono, suami korban berinisitif membawanya ke salah satu bidan desa bernama Suhartini.


“Saat suaminya sampai di lokasi praktik bidan tersebut ditolak sehingga harus kembali lagi ke rumah. Padahal air ketuban sudah banyak mengucur,” kata salah seorang tokoh desa Kepatihan, Hermanto.


Padahal sebelumnya, kata dia, saat melakukan kontrol pegawai Puskesmas Kecamatan Menganti telah memberikan surat rujukan agar saat terjadi kondisi gawat darurat bisa langsung mendatangi bidan desa.


Sementara itu, usai mendapat penolakan dari bidan, Handono nekat melakukan persalinan secara mandiri. “Suami memberanikan diri untuk melakukan persalinan namun kondisi bayinya berada pada posisi tidak normal (sungsang). Namun persalinan tersebut berhasil dilakukan,” imbuhnya.


Dikatakan, usai melakukan persalinan terhadap istrinya Handono kembali membawa bayi yang baru dilahirkan ke bidan desa. Tujuannya untuk memutus tali pusar. Namun lagi-lagi sang bidan menolak dengan alasan selama pandemi Covid 19 tidak menerima persalinan.


“Dalam kondisi yang bingung akhirnya bayi dilarikan ke rumah sakit di Benowo, namun sampai di rumah sakit dinyatakan meninggal dunia,” katanya.


Mirisnya, usai mengetahui bayi meninggal sang bidan justru datang melayat ke rumah korban. Sontak saja hal ini menuai banyak kecaman dari masyarakat sekitar.


“Kami menyangkan sikap bidan yang tidak profesional. Harusnya, saat tidak bisa melayani pasien bersalin bisa dibuatkan surat rujukan ke rumah sakit. Saya yakin apabila pasien ditangani lebih cepat bayinya tidak akan meninggal,” keluh Hermanto.


Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Gresik, drg Syaifuddin Ghozali mengaku belum mendapatkan informasi tersebut. Namun dirinya berjanji akan menindaklanjuti hal ini di lapangan.


“Saya akan minta staf untuk mengecek kebenarannya dulu baru bisa memberikan keterangan,” tegas Ghozali. (fir/han)

Editor : Administrator
#polsek menganti