SURABAYA - Datangnya musim hujan membawa berkah bagi pawang hujan. Bagaimana tidak, bisa-bisa dalam sehari seorang pawang diorder mulai 5 tempat hingga 8 tempat acara.
Salah satu pawang hujan terkenal di Kota Surabaya, Purnomo mengatakan, saat ini rata-rata sehari menerima 5 order untuk memindahkan hujan. "Rata-rata tiap hari lima sampai delapan. Paling ramai sepuluh tempat," kata Purnomo ditemui saat melakukan pekerjannya di Jalan Kombes Pol M Duriyat, Surabaya, Kamis (13/12).
Dia menjelaskan, keahlian menjadi pawang merupakan warisan turun temurun. Berawal dari neneknya yang ada di Kediri. Setelah dia lahir, sang nenek sudah menebak jika cucunya akan menjadi seorang pawang dan mampu membantu mengobati orang. "Pur mbesok seng ati-ati awakmu ngomong sak ngomong mandi (Pur nanti kamu kalau berbicara hati-hati sebab pembicaraan mu manjur, Red)" ucap bapak tiga anak itu menirukan omongan neneknya.
Kenapa manjur? Purnomo menerangkan sebab di lidahnya terdapat titik putih atau warna putih di tengah-tengah. Titik putih itu menurut nenek Purnomo menandakan apa yang terucap atau doa yang dipanjatkan cucunya itu mudah dikabulkan. Namun kendati, demikian Purnomo tetap percaya kehendak Tuhan
Kepada Radar Surabaya Purnomo menceritakan, ucapan neneknya itu terbukti saat memasuki usia 23 tahun. Saat itu dia diminta bantuan untuk mengobati orang sakit seperti kena racun kalajengking. Setelah dicoba, ternyata manjur. Seseorang yang kesakitan itu sembuh dalam sekejap. Selain itu, dia juga biasa mengobati orang sakit keras, seperti penyakit dalam dan lain-lainnya. "Untuk pertama kali melakukan pawang hujan itu di Yani Golf," ceritanya.
Saat itu, kata Purnomo, dia sudah bekerja sebagai bagian pengawasan karyawan dan pawang hujan di lapangan golf yang ada di kawasan Gunungsari, Surabaya itu. Tiba-tiba saat para komandan latihan, mendung tebal tiba. Tak berselang lama, gerimis turun. "Saya dipanggil salah satu komandan. Lalu saya beraksi di tengah lapangan membawa sapu tangan, dan saya panjatkan doa-doa, akhirnya hujan reda," terang dia.
Tak jadi hujan, para komandan dari TNI AL yang berada di lokasi tersebut senang dan terheran-heran. Kemudian Purnomo mulai dikenal. Cerita para komandan tersebut, menyebar luas dari mulut ke mulut. Kemudian, Purnomo juga membuat dan memberikan kartu nama. "Dari situlah saya dikenal hingga sekarang," kenangnya.
Untuk melakukan pekerjannya, Purnomo mengaku memang sebelumnya ada kewajiban yang harus dilakukan. Yakni berpuasa mutih selama seminggu di bulan Muharam atau Suro. Kemudian, sebelum melakukan pawang di lokasi acara dia terlebih dahulu mandi besar atau mandi wajib. Setelah itu, kemudian Purnomo datang ke lokasi acara. Di sekitar lokasi acara, Purnomo biasanya membawa media sapu lidi dan sapu tangan. "Sapu lidi saya balik, saya tancapi irisan bawang merah, bawang putih, lombok, dan lainnya," tuturnya. Media sapu lidi tersebut kemudian ditancapkan di sekitar lokasi acara.
Kemudian, Purnomo menyalakan dupa. Tak hanya itu, dia juga meminta memanjatkan doa kepada Allah yang Maha Kuasa. Selain itu dia juga meminta izin kepada penghuni sekitar lokasi. "Istilahnya, saya kulo nuwun dan sapu tangan ini kenapa saya ikat ujungnya, karena makhluk lain itu supaya tidak ganggu, makanya saya ikat," bebernya.
Setelah semua media sarana dilakukan, selanjutnya Purnomo melakukan ritual memanjatkan doa-doa. Doa dilakukan dengan membaca doa qunut dan doa dalam bahasa Jawa. "Dalam doa itu kita harus iklhas, artinya ikhlas, antara ucapan dan hati harus selaras, Insaallah dengan begitu doa kita akan dikabulkan Gusti Allah, karena sudah ada di dalam Alquran. Uduunii astajib lakum," paparnya.
Pria usia 63 tahun itu menegaskan, sebagai seorang pawang dia tidak bisa menolak hujan. Akan tetapi pawang hanyalah memindahkan hujan atau mengalihkan hujan. Purnomo mengaku, selama 40 tahun dia sudah malah melintang menjadi pawang di Kota Surabaya. Yang membuat dia semakin dikenal hingga keluar daerah adalah saat melakukan tugas pawang hujan di halaman Mapolrestabes Surabaya dan dimasukkan ke YouTube.
"Di Surabaya yang menjadi langganan seperti Armatim, Lantamal, Polda, hotel-hotel dan event organizer sering memakai jasa saya," bebernya. Sekali pemakaian Jawa pawang, untuk instansi atau organisasi, Purnomo mematok tarif senilai Rp 1 juta. Sementara, untuk warga kampung dia mematok setengahnya.
Kadang juga melihat kondisi pemakai jasa. Namun setiap kali diminta pertolongan Purnomo tak pernah menolak. Untuk di kampung, Purnomo membeberkan, orang yang mengorder adalah orang yang memiliki hajatan pernikahan resepsi, khitanan, syukuran dan lain-lain. "Selain di Surabaya, saya juga sering dimintai tolong untuk proyek dan acara di luar Pulau," jelasnya.
Caranya, menurut Purnomo, pemesan harus mengirimkan alamat jelas lokasi. Setelah itu, uang imbalan ditransfer melalui rekening. Setelah deal kemudian, doa ditransfer dari rumah oleh Purnomo. "Saya mendapatkan kontrak lima bulan, di Pulau Sebatik Nunukan. Itu di sana ada proyek membuat jalan, Alhamdulillah saya transfer dari situ dan sukses," papar pria yang kerap disapa Mbah Ghofur itu. Selain dari Kalimantan, Purnomo juga biasa menerima order dari acara di Jakarta, Sulawesi, Sumatra, dan Batam.
Disinggung apakah selama melakukan pawang, pernah meleset, Purnomo mengaku pernah. Akan tetapi tidak sampai hujan lebat, paling hanya gerimis, namun setelah itu bisa diatasi. Sebab, sukses tidaknya melakukan pawang ditentukan oleh hati dan doa yang ikhlas. Selain dari pawang sendiri, dari pengorder juga harus ikhlas. "Pantangan selama di lapangan tidak boleh ngobrol yang tidak ada gunanya, melirik perempuan yang cantik, baju harus suci, tidak boleh macem-macem," cetusnya.
Radius dalam pengalihan hujan, menurut Purnomo sesuai dengan apa yang dipanjatkan dan diminta. Biasanya dia bisa melakukan mengalihkan hujan dari jarak radius 3 kilometer keliling. Paling jauh kadang bisa sampai 10 kilometer keliling. Akan tetapi itu, tergantung kehendak Allah. "Jika acara sukses dan selesai, untuk penutupnya saya kembali baca doa, dan istilahnya matur suwon, kemudian tali lipatan sapu tangan saya lepas," ungkapnya.
Dari jasanya melakukan pawang, Purnomo pria yang tinggal di kawasan Jogoloyo VIII itu per bulannya mampu meraup penghasilan sekitar Rp 50 juta. Namun saat ini dia tidak sendirian. Selama lima tahun belakangan ini, dia selalu didampingi 10 stafnya. Mulai dari sopir dan anak buahnya. Para staf memiliki peran masing-masing. Salah satunya adalah sebagai penyulut dupa. Namun kendali doa utama tetap di Purnomo.
Purnomo, sendiri saat ini memiliki media sapu tangan 10 buah. Sapu tangan itu terbuat dari kain sejenis yang sama layaknya sapu tangan pada umumnya. Fungsinya, sapu tangan itu digunakan untuk media mengikat dan dikibas-kibaskan sambil membaca doa.
"Alhamdulillah anak saya dua juga sudah bisa mawang seperti saya," jelasnya. Kedua anak Purnomo, bisa melakukan pawang tanpa dilatih. Sebab, menurut Purnomo kalau sudah titisan kendati tidak dilatih akan tetap nitis. Purnomo menambahkan, dua anaknya itu, memiliki cara berbeda dengan dirinya dalam melakukan pawang. Mereka melakukan pawang dengan melakukan wirid dan doa.
Menurut Purnomo, sejauh ini, dia mengaku juga pernah melatih 15 orang dari satuan TNI untuk menjadi pawang. Akan tetapi semuanya meleset alias gagal. "Menjadi pawang menurut saya tidak seperti yang dikatakan beberapa orang, ada yang syirik atau lainnya, saya ini melakukan hal ini karena Allah," tegas pria yang selalu memakai udeng dan pakaian adat Jawa itu.
Purnomo menerangkan, apa yang dilakukan dan doa yang dibaca selama melakukan pawing, semua orang bisa. Namun untuk hati yang ikhlas itu tidak semua orang bisa, sebab yang menilai Allah.
"Pawang hanya mengalihkan atau memindahkan, tidak bisa menolak hujan akan tetapi hujan bisa diminta, karena semua tergantung Allah, jadi saya tidak minta bantuan setan dan jin tidak," tandasnya. (rus/opi)
Editor : Administrator