Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jumlah Penderita Kusta Di Sidoarjo Hingga 2019 Mencapai 48 Orang

Administrator • Selasa, 11 Februari 2020 | 18:25 WIB
Jumlah Penderita Kusta Di Sidoarjo Hingga 2019 Mencapai 48 Orang
Jumlah Penderita Kusta Di Sidoarjo Hingga 2019 Mencapai 48 Orang

SIDOARJO-Jawa Timur merupakan provinsi penyumbang kusta baru tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data hingga 21 Januari 2020, ditemukan 2.668 penderita kusta baru. Sedangkan 3.351 dalam masa berobat. Sebanyak 255 di antaranya menjangkit anak-anak dan sampai pada tahap 2 atau cacat dan 194 anak-anak pada tahap satu.


Penyakit infeksi kulit kronis yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae ini bukanlah penyakit genetik. Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo dr. M. Atho’illah menjelaskan kusta adalah penyakit menular. “Penularannya melalui percikan ludah,” ucapnya.


Bakteri penyebab penyakit kusta juga bisa ditularkan melalui kontak langsung dengan binatang tertentu seperti trenggiling. Penyakit ini memerlukan waktu inkubasi yang cukup lama, antara 40 hari sampai 40 tahun, rata-rata membutuhkan 3 hingga 5 tahun setelah tertular sampai timbulnya gejala.


Di Sidoarjo, hingga 2019 tercatat ada 48 penderita kusta. Dia menjelaskan bahwa seseorang bisa mengenali gejala awal menderita kusta. “Ada tanda-tanda bercak warna putih seperti panu tapi tidak terasa gatal,” imbuhnya.


Jika timbul gejala ini, harus waspada dan cepat melakukan pemeriksaan. Lebih lanjut, penderita akan merasakan mati rasa atau baal. Kondisi ini menyebabkan penderitanya tidak bisa merasakan perubahan suhu sehingga kehilangan sensasi sentuhan dan rasa sakit pada kulit.


Kusta bisa disembuhkan dan pemberian Multi Drug Therapy (MDT) terdiri dari kombinasi dapsone, rifampicin, clofazimine atau lamprene, ofloxacin, dan/atau minocycline. Kombinasi obat kusta ini akan disesuaikan dengan tipe kusta yang dimiliki, kering atau basah.


Obat ini gratis di seluruh puskesmas. Tidak ada pantangan tertentu bagi penderita kusta apalagi sampai perawatan di ruang isolasi. “Intiya pengobatan teratur. Bahkan awal pengobatan sudah bisa membunuh kuman,” ungkapnya.


Atho’ menjelaskan, untuk menghindari kusta cukup mudah yakni dengan hidup bersih dan sehat. Kebersihan kingkungan berpengaruh terhadap kejadian kusta. (rpp/nis) 


Editor : Administrator