Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Meneladani Kisah Orang di Sekeliling Rasul Yang Meninggal Saat Ramadan

Administrator • Sabtu, 9 Mei 2020 | 13:12 WIB
Meneladani Kisah Orang di Sekeliling Rasul Yang Meninggal Saat Ramadan
Meneladani Kisah Orang di Sekeliling Rasul Yang Meninggal Saat Ramadan

SEJARAH mencatat, banyak peristiwa di bulan Ramadan yang bisa diambil hikmah, mulai dari kisah heroik jihad melawan kaum kafir saat ibadah puasa, maupun kepergian orang-orang mulia yang terjadi pada bulan suci. Di antara kisah duka tentang kepergian panutan kaum muslim adalah kepergian Siti Khadijah, Fatimah, Aisyah, dan Ali bin Abi Thalib.


Dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 3626, dijelaskan sabda Rasulullah SAW: Sebaik-baik wanita (di masanya) ialah Maryam dan sebaik-baik wanita (di masanya) ialah Khadijah. Sayyidah Khadijah, salah satu yang disebut dalam hadis tersebut, wafat pada 11 Ramadan (sebelum Hijriyah, yaitu tahun ke 10 setelah kenabian). Peristiwa ini menjadi penentu duka cita Rasulullah SAW karena dalam satu tahun, bukan hanya Khadijah yang wafat, paman yang juga sangat dicintai Rasulullah, Abi Thalib, juga wafat. Kepergian keduanya menjadi penanda tahun duka cita,  Amul Huzni.


Sosok penghuni surga berikutnya yang juga meninggal di bulan Ramadan adalah Fatimah, putri Sayyidah Khadijah bersama Rasulullah SAW. Kepergiannya pada usia yang masih sangat muda, yaitu 28 tahun, dengan meninggalkan 4 anak yang masih belia. Wafatnya Fatimah pada 3 Ramadlan 11 H, hanya berselang 6 bulan dari wafatnya Rasulullah SAW. Hal ini seakan menunjukkan kedekatan yang besar antara bapak dengan anak, sebagaimana dijelaskan dalam kitab shahih Bukhari: Dari Miswar bin Makhramah R.A, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: Fatimah adalah segumpal dagingku, maka barangsiapa menjadikannya marah, maka dia menjadikan aku marah. (Hadis nomor 3578).


Kedekatan keduanya juga dijelaskan oleh Sayyidah Aisyah, Ummul mukminin (ibunya kaum mukmin). Bahwa saat menjelang wafatnya Rasulullah SAW, beliau memanggil putri tercintanya untuk menghampirinya.


"Nabi SAW memanggil Fatimah putrinya di saat pengaduan dimana beliau meninggal dan membisikkan sesuatu kepadanya, lalu ia tertawa. Lalu saya bertanya kepadanya mengenai hal tersebut." Ia (Fatimah) menjawab: "Nabi SAW berbisik kepadaku dan bercerita, bahwa beliau akan meninggal pada saat sakitnya itu, lalu saya menangis. Kemudian beliau berbisik kepadaku dan bercerita, bahwa saya adalah keluarga beliau yang pertama mengikutinya, lalu saya tertawa." (kitab Shahih Bukhari, hadis nomor 3531).


Istri tercinta Rasulullah yang mengisahkan kedekatan antara bapak dengan anak tersebut, kemudian juga wafat pada bulan Ramadan pula, yaitu tepatnya pada 16 Ramadan 58 Hijriyah. Aisyah merupakan sosok muslimah yang cerdas. Beliau telah merawikan 2210 hadis dan dikenal sebagai rujukan para sahabat Rasulullah dalam menanyakan perihal fiqih. Diantara hadis yang diceritakan oleh Sayyidah Aisyah, adalah tentang Sayyidah Khadijah yang mendampingi Rasulullah SAW di awal turunnya wahyu, Khadijah-lah yang memberikan ketenangan kepada sang Rasul akhir zaman. 


Meski memiliki kekaguman besar kepada istri pertama, Aisyah pun memiliki rasa cemburu yang manusiawi. Hal ini tertulis dalam kitab Shahih Bukhari, hadis nomor 4978: Dari Aisyah RA. Bahwasannya ia berkata: "Saya tidaklah cemburu kepada salah seorang istri Rasulullah seperti kecemburuanku kepada Khadijah karena saking banyaknya Rasulullah menyebut-nyebutnya dan menyanjungnya. Dan sesungguhnya Rasulullah telah diberi wahyu bahwa Allah telah memberi kabar gembira kepada Khadijah dengan sebuah rumah dari bambu di surga."


Kecemburuan yang dijelaskan oleh Aisyah adalah bentuk rasa kagumnya kepada Siti Khadijah yang diakuinya sosok istri sangat mulia. Kisah Rasulullah Saw dengan Sayyidah Aisyah menjadi inspiratif kisah cinta sesama manusia yang indah dan mulia.


Dalam hadis nomor 3706 kitab shahih Bukhari, dijelaskan: "Dari Aisyah RA, sesungguhnya nabi SAW bersabda kepadanya: "Aku melihat dirimu dalam mimpi dua kali, yaitu aku melihat (rupa)mu di sehelai sutera, dan seseorang berkata: "Inilah istrimu, maka bukalah (wajah)nya". Ternyata dia adalah dirimu, maka aku berkata: "Jika ini adalah (pemberian) dari sisi Allah, maka Dia akan melaksanakannya".


Sayyidah Aisyah juga istri yang dipilih Rasulullah SAW untuk mendampingi Rasul di akhir hayatnya.bShahih Bukhari hadis nomor 3585: Dari ayah Hisyam RA, Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika sakit, beliau berkeliling di beberapa istrinya, seraya bertanya: "Dimanakah aku besok?," Karena (beliau) menginginkan di rumah Aisyah. Aisyah berkata: "Ketika (giliran) hariku, maka beliau terdiam,"


Rasulullah SAW menikahi Aisyah tidak ketika masih beristri Khadijah, melainkan berselang sekitar 5 tahun (tiga tahun sebelum kepergian Rasul ke Madinah, dan dua tahun setelah Rasulullah tinggal di Madinah). Hal itu seperti yang tertuang dari hadis nomor 3707 shahih Bukhari.


Meninggalnya Sayyidah Aisyah menjadi ujian bagi kaum mukmin, yaitu perpecahan yang terjadi antara pendukung Sayyidah Ali dengan Sayyidah Aisyah, padahal dari keduanya tidak ada permasalahan apapun. 


Dari Abu Waail RA, ia berkata: "Ketika Ali mengutus Ammar dan Hasan ke Kufah untuk membuat mereka (penduduk Kufah) lari, maka Amar berpidato seraya berkata: "Sungguh-sungguh aku mengetahui bahwa ia (Aisyah) adalah istri beliau di dunia dan akhirat, tetapi Allah mengujimu agar mengikuti (Ali) atau (Aisyah)," (Hadis nomor 3583, kitab shahih Bukhari).


Berita bohong yang menimbulkan perpecahan, memang telah ada sejak dulu, dan hal ini telah diterangkan dalam Al-Qur'an maupun hadis, diantaranya surat An Nuur ayat 11 dan 15.


Sedangkan Khalifah Ali bin Abi Thalib juga wafat pada bulan Ramadan, yaitu tanggal 21 Ramadan 40 H. Wafatnya suami dari Sayyidah Fatimah binti Rasulullah tersebut, disebabkan pembunuhan oleh Abdurrahman bin Muljam pada 26 Januari 661 di Masjid Agung Kufah.


Pada masa Khalifah Ali, fitnah dan penyebaran berita bohong semakin merajalela yang menyebabkan perang saudara sesama mukmin. Khalifah sebelum Sayyidina Ali, yaitu Utsman bin Affan, juga terbunuh oleh seorang yang keji, yaitu Abdullah bin Saba', seorang Yahudi yang diduga masuk Islam dengan tujuan merusak pemerintahan  Islam saat itu. 


Dengan begitu, berbeda dengan kepergian tiga wanita mulia yang terjadi dengan mengharukan, peristiwa terbunuhnya Ali bin Abi Thalib di bulan suci, kiranya menjadi pembelajaran berarti tentang pentingnya menjaga diri dari segala fitnah dan kebencian. Kiranya, pada bulan suci Ramadan ini, bukan hanya berpuasa sebagai bentuk menahan lapar, melainkan juga menahan segala hawa nafsu dan suudzon yang bisa merusak hati. (jpg)


Editor : Administrator