Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Nilai TKA SMA/SMK Anjlok! Bahasa Inggris Terendah, Pakar Bongkar Krisis Serius Pendidikan Indonesia

Rahmat Sudrajat • Minggu, 4 Januari 2026 | 10:55 WIB
Siswa SMA saat mengerjakan ujian. Hasil TKA mengalami penurunan, pakar sebut banyak pemicu.
Siswa SMA saat mengerjakan ujian. Hasil TKA mengalami penurunan, pakar sebut banyak pemicu.

RADAR SURABAYA — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/SMK 2025 memunculkan kekhawatiran baru di dunia pendidikan Indonesia.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat penurunan signifikan capaian akademik siswa, dengan Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran bernilai terendah di kedua jenjang.

Berdasarkan data resmi yang diumumkan Selasa (23/12), nilai rata-rata jenjang SMA tercatat Bahasa Indonesia 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71.

Sementara untuk jenjang SMK, nilai Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,55.

Bahasa Inggris Jadi Indikator Krisis

Rendahnya skor Bahasa Inggris menjadi indikator serius terhadap mutu pendidikan nasional.

Sosiolog pendidikan Universitas Airlangga, Prof Dr Tuti Budirahayu, menilai kondisi ini menunjukkan lemahnya sistem pembelajaran dan rendahnya motivasi akademik siswa.

“TKA tidak lagi dipandang sebagai ujian penentu masa depan seperti UN dan SNBP. Akibatnya, siswa kehilangan dorongan untuk belajar secara maksimal,” ujarnya, Minggu (4/1).

Distraksi Digital dan Gaya Hidup Instan

Ia menambahkan, distraksi digital menjadi faktor dominan. Media sosial, gim daring, serta konten hiburan instan telah menggerus daya fokus, konsentrasi jangka panjang, serta kemampuan berpikir analitis generasi muda.

“Paparan gawai yang masif melemahkan kebiasaan membaca dan ketekunan belajar, termasuk dalam penguasaan Bahasa Inggris,” tegas Prof. Tuti.

Cermin Mutu Pendidikan Nasional

Menurutnya, hasil TKA merupakan cerminan langsung kualitas pembelajaran di sekolah. Jika capaian terus menurun, maka reformasi pendidikan besar-besaran tidak bisa ditunda.

“Metode belajar harus bergeser dari hafalan menuju pembelajaran berbasis penalaran, pemahaman konsep, dan Higher Order Thinking Skills (HOTS),” jelasnya.

Solusi: Reformasi Sistemik dan Kolaborasi

Sebagai solusi, Prof. Tuti mendorong:

Peningkatan kualitas guru

Pemerataan mutu pendidikan antarwilayah

Penguatan literasi digital kritis

Kolaborasi sekolah–orang tua–pemerintah daerah

Penguatan program mentoring dan konseling siswa

“Sinergi semua pihak menjadi kunci membangun kembali fondasi pendidikan nasional,” pungkasnya.(rmt) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Tes Kemampuan Akademik #Prof Dr Tuti Budirahayu #tka #bahasa inggris #Pakar Pendidikan #sma/smk