RADAR SURABAYA — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan bahwa produksi telur nasional dalam kondisi aman dan swasembada. Hal itu ia sampaikan saat memberikan keterangan terkait fluktuasi harga telur di sejumlah daerah, saat kunjungan kerja ke Surabaya, Jumat (21/11) lalu.
Menurut Sudaryono, pemerintah telah melakukan analisis menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir. Dari sisi produksi, harga jagung sebagai pakan utama telah ditekan agar biaya peternak tetap stabil.
Sementara itu, hasil pengecekan langsung ke lapangan menunjukkan bahwa para peternak menjual telur dari kandang pada kisaran Rp 24.000 hingga Rp 26.000 per kilogram.“Peternak tertib, semua menjual di harga yang sesuai. Paling mahal Rp 26.000 per kilogram,” ujar Sudaryono.
Ia menegaskan bahwa harga eceran tertinggi (HET) telur seharusnya berada pada kisaran Rp30.000 per kilogram, sehingga masih terdapat ruang hingga Rp4.000 yang wajar.
Namun, Sudaryono mengakui bahwa terdapat sejumlah daerah yang menjual telur di atas HET, bahkan mencapai Rp 35.000. Ia menduga ada oknum tengkulak atau middleman yang memanfaatkan situasi, terlebih di tengah meningkatnya kebutuhan bahan pangan.
“Kami menduga ada oknum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ini sedang kami tertibkan bersama Satgas Pangan Bareskrim Polri,” tegasnya.
Penertiban dilakukan karena kenaikan harga yang terjadi dinilai tidak wajar, mengingat stok telur cukup dan distribusi dari peternak berlangsung normal.
Selain telur, Wamentan juga menyoroti potensi peningkatan harga pada komoditas lain seperti sayuran, buah, beras, dan protein hewani. Namun ia memastikan kondisi tersebut masih dapat dikelola. “Insya Allah semuanya manageable. Tidak ada kondisi yang membuat kita tiba-tiba kekurangan,” ujarnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto