Surabaya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi terjadinya fenomena panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini disebabkan oleh pola cuaca tidak menentu, dinamika atmosfer, serta perubahan arah angin regional yang turut memengaruhi suhu udara di berbagai daerah.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari masa peralihan musim (pancaroba) dari kemarau menuju musim hujan. Suhu udara di beberapa wilayah tercatat mencapai hingga 36°C, terutama di kawasan Jawa Timur dan Nusa Tenggara.
“Fenomena dengan suhu panas yang dirasakan belakangan ini merupakan dampak dari masa peralihan musim atau pancaroba. Beberapa wilayah di Indonesia mengalami suhu udara yang terasa lebih terik, bahkan di pagi dan malam hari. Fenomena ini tidak lepas dari masa peralihan musim kemarau menuju ke musim hujan,” ujar Guswanto.
Menurut BMKG, minimnya tutupan awan, pergeseran semu matahari ke arah selatan, dan radiasi matahari langsung ke permukaan bumi turut memperparah kondisi panas. Pada pagi hingga siang hari, langit yang cerah tanpa awan tebal menyebabkan sinar matahari langsung memanaskan permukaan bumi secara intens.
“Pada pagi hingga siang hari, sinar matahari memanaskan permukaan bumi secara intens karena langit relatif cerah tanpa awan tebal. Pemanasan ini juga memicu adanya pembentukan awan konvektif, terutama awan cumulonimbus (Cb), kemudian dapat menyebabkan hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat pada sore hingga malam hari,” imbuhnya.
Fenomena gelombang panas ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga awal November 2025, sebelum stabilitas atmosfer kembali terbentuk seiring masuknya musim penghujan.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi fisik di tengah suhu tinggi. Warga disarankan tidak melakukan aktivitas berat di luar ruangan, terutama pada siang hari, serta menjaga asupan cairan dan menerapkan gaya hidup sehat guna mencegah dampak negatif dari cuaca ekstrem. (acl/fir)
Editor : M Firman Syah