Tragedi Ponpes Al Khoziny: Jenazah Korban Musala Ambruk Menunggu Identifikasi 3 Hari
M. Mahrus• Sabtu, 4 Oktober 2025 | 10:40 WIB
Kedatangan kantong jenazah No.6 di RS Bhayangkara, Jumat malam.
Proses Identifikasi Jenazah Korban Musala Ambruk Ponpes Al Khoziny Diperkirakan 3 Hari
RADAR SURABAYA – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur telah menerima delapan kantong jenazah korban ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, hingga Jumat (3/10) malam.
Proses identifikasi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hari.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi M. Khusnan, menjelaskan bahwa tes DNA menjadi metode terakhir apabila identifikasi visual maupun sidik jari tidak memungkinkan.
“Tes DNA bisa cepat atau lambat, namun dalam kondisi terbaik hasil dapat diketahui sekitar tiga hari,” kata Khusnan dalam konferensi pers di RS Bhayangkara Surabaya.
Lima Jenazah Sudah Teridentifikasi Sementara
Dari delapan kantong jenazah yang diterima, lima sudah melalui proses identifikasi awal, meski masih memerlukan pendalaman lebih lanjut. Sementara tiga lainnya masih dalam tahap pemeriksaan.
Menurut Khusnan, data gigi merupakan metode identifikasi paling efektif, khususnya bagi korban yang memiliki riwayat pemeriksaan gigi atau foto panoramik.
Sidik jari juga bisa digunakan, tetapi sebagian besar sudah rusak akibat faktor alamiah karena jenazah berada lebih dari tiga hari.
“Oleh karena itu, kami menyiapkan pemeriksaan DNA sebagai metode terakhir. Besok pagi sampel DNA yang sudah diambil dari keluarga akan dikirim ke Pusdokkes Polri,” ujarnya.
Kantong jenazah No.7
57 Sampel DNA Keluarga Sudah Dihimpun
Sejauh ini, tim DVI telah mengumpulkan 57 sampel DNA dari keluarga yang melapor kehilangan anggota keluarganya. Jumlah tersebut masih bisa bertambah seiring adanya laporan baru dari masyarakat.
Khusnan menekankan pentingnya dukungan data ante mortem dari keluarga untuk mempercepat proses identifikasi. Data itu mencakup foto terakhir korban, pakaian terakhir yang dikenakan, hingga barang-barang pribadi.
“Data identitas harus diberikan keluarga, bukan tim, agar tidak terjadi kesalahan identifikasi,” tegasnya.
Kondisi Jenazah Masih Utuh
Secara umum, kondisi jenazah masih utuh, meskipun ada bagian tubuh yang mengalami kerusakan akibat proses alamiah. Khusnan memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan.
“Karena ini bencana akibat bangunan runtuh, maka fokus kami adalah identifikasi korban, bukan penyebab kematiannya,” ujarnya.
Optimistis Semua Korban Bisa Teridentifikasi
Mengacu pada pengalaman kasus serupa, seperti peristiwa kapal tenggelam di Banyuwangi, Khusnan optimistis seluruh korban Ponpes Al Khoziny dapat teridentifikasi meski kondisi sebagian jenazah cukup sulit.
“Semua proses identifikasi kami lakukan sesuai panduan internasional, termasuk dari Prancis,” tambahnya.