Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Padel untuk Semua: Olahraga dari Keterbatasan yang Kini Mendunia

Rahmat Adhy Kurniawan • Kamis, 25 September 2025 | 11:47 WIB
Padel harus jadi olahraga yang membumi dan merakyat sesuai akarnya.
Padel harus jadi olahraga yang membumi dan merakyat sesuai akarnya.

RADAR SURABAYA – Sebagai Wakil Ketua KONI Jawa Timur, saya sering mendapat pertanyaan mengenai tren olahraga baru yang mulai populer di Indonesia, salah satunya adalah padel.

Bagi sebagian orang, padel terlihat sebagai olahraga eksklusif yang hanya bisa dimainkan kalangan tertentu di lapangan modern dengan biaya sewa relatif tinggi.

Narasi itu tidak sepenuhnya keliru, sebab hingga kini fasilitas padel di Indonesia masih terbatas, terkonsentrasi di kota besar, dan identik dengan gaya hidup urban.

Namun, jika menengok sejarahnya, padel justru lahir dari hal yang sederhana, bahkan sangat membumi. Olahraga ini berangkat dari keterbatasan, bukan dari kemewahan.

Sejarah Padel: Lahir dari Ruang Sempit di Meksiko

Padel pertama kali muncul pada tahun 1969 di Acapulco, Meksiko. Seorang pengusaha bernama Enrique Corcuera ingin membangun lapangan tenis di halaman rumahnya.

Namun, lahan yang tersedia terlalu sempit karena terhimpit tembok dan dinding. Dari keterbatasan itu lahirlah inovasi: lapangan tenis versi mini, dengan dinding sebagai bagian dari permainan, serta raket yang lebih sederhana. Olahraga baru itu dinamai padel.

Sejak awal, padel lahir bukan dari resor mewah atau klub elite, melainkan dari kreativitas rakyat biasa yang berusaha memanfaatkan ruang terbatas untuk tetap bisa berolahraga.

Perjalanan Padel hingga Mendunia

Dari Meksiko, padel menyebar ke Spanyol melalui bangsawan Alfonso de Hohenlohe. Dari sana, olahraga ini berkembang pesat ke Argentina, lalu merambah Eropa, Timur Tengah, hingga Asia.

Dalam beberapa dekade terakhir, padel tumbuh menjadi salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Namun, akar sejarahnya sering terlupakan: padel bukanlah olahraga elite. Ia lahir dari keterbatasan. Justru di situlah nilai yang seharusnya kita rawat.

Dua Wajah Padel di Indonesia

Hari ini, padel memiliki dua wajah. Di satu sisi, padel membawa energi baru: dinamis, mudah dimainkan, menyenangkan, dan cocok dimainkan berpasangan.

Padel cepat dipelajari sehingga menarik bagi pemula maupun atlet lintas cabang olahraga. Banyak kalangan muda tertarik karena padel menghadirkan kombinasi antara olahraga, hiburan, dan gaya hidup.

Di sisi lain, padel berisiko terjebak dalam stigma eksklusivitas. Biaya sewa yang relatif mahal, fasilitas yang terbatas, serta citra olahraga kalangan atas membuatnya sulit diakses masyarakat luas.

Inilah tantangan kita bersama: bagaimana membumikan padel agar tidak berhenti sebagai tren elite, tetapi tumbuh menjadi olahraga rakyat.

 

Strategi Membumikan Padel

Sebagai bagian dari KONI, saya melihat beberapa langkah strategis untuk memperluas akses padel:

1. Demokratisasi Akses. Lapangan padel harus keluar dari pagar eksklusif. Fasilitas bisa dikembangkan di ruang publik, sekolah, kampus, bahkan taman kota.

2. Harga Terjangkau. Model bisnis inovatif, klub komunitas dengan iuran rendah, hingga program subsidi bersama sponsor perlu didorong.

3. Program Inklusi. Padel dapat masuk ke kurikulum olahraga sekolah atau kegiatan ekstrakurikuler agar generasi muda akrab sejak dini.

4. Narasi yang Membumi. Sejarah padel harus diceritakan dengan jujur: olahraga ini lahir dari garasi sederhana, bukan ballroom hotel.

 Belajar dari Futsal dan Bulu Tangkis

Indonesia punya pengalaman membumikan olahraga lain. Futsal, misalnya, dulu dianggap mahal dan eksklusif.

Namun, setelah lapangan komunitas bermunculan, futsal menjelma menjadi olahraga rakyat. Begitu juga bulu tangkis yang awalnya identik dengan kelas menengah, tetapi kemudian menjadi simbol prestasi dari kampung hingga dunia.

Padel pun bisa menempuh jalan serupa jika dikembalikan pada akarnya: sederhana, inklusif, dan menyenangkan.

Padel untuk Masa Depan Olahraga Indonesia

Saya melihat padel berpotensi menjadi olahraga pemersatu. Dengan format ganda, padel mendorong kebersamaan, interaksi sosial, serta semangat komunitas.

Jika kelak lapangan padel hadir di kampung-kampung kota, olahraga ini bisa menghidupkan ekosistem sosial dan ekonomi lokal.

Lebih jauh lagi, padel bisa menjadi arena pembinaan atlet masa depan. Dengan pertumbuhan global yang pesat, peluang padel masuk ke multi-event internasional semakin besar.

Indonesia perlu bersiap sejak dini, dan pembinaan itu bisa dimulai dari sekolah dan komunitas, bukan hanya klub elite.

Olahraga Harus Inklusif

Padel adalah cermin bahwa olahraga tidak boleh terjebak dalam eksklusivitas. Sejatinya, olahraga adalah hak publik: inklusif, membumi, dan memberi manfaat sosial.

Sejarah padel mengajarkan kita bahwa keterbatasan dapat melahirkan kreativitas mendunia.

Filosofi ini sejalan dengan semangat olahraga Indonesia: prestasi lahir dari akar rumput, gotong royong, dan tekad mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Jika kita mampu membumikan padel, olahraga ini tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi juga bagian dari ekosistem olahraga nasional yang melahirkan atlet berprestasi dan memberi manfaat sosial bagi masyarakat.(*)

Muhammad Ali Affandi
Wakil Ketua I KONI Jawa Timur

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#inklusif #padel #meksiko #Enrique Corcuera