Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dari Voltaire hingga Robespierre, Bagaimana Kopi Jadi Bahan Bakar Revolusi Prancis

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 6 September 2025 | 17:57 WIB
Kopi bukan sekadar minuman, tapi juga saksi lahirnya Revolusi Prancis abad ke-18 lewat diskusi di kedai kopi Eropa.
Kopi bukan sekadar minuman, tapi juga saksi lahirnya Revolusi Prancis abad ke-18 lewat diskusi di kedai kopi Eropa.

Surabaya – Secangkir kopi bukan hanya pengusir kantuk atau teman pagi hari. Dalam catatan sejarah, kopi berperan penting dalam lahirnya Revolusi Prancis abad ke-18, yang kemudian menjadi fondasi demokrasi modern.

Sejumlah literatur politik menyebut kedai kopi di Eropa sebagai ruang intelektual. Filsuf, seniman, hingga pemimpin revolusi berkumpul, bertukar ide, dan menyusun gagasan besar. Dari ruang sederhana itulah lahir pemikiran yang mengguncang monarki absolut Prancis.

"Seru sekali ketika mengetahui bahwa secangkir kopi ikut terlibat dalam revolusi negara Prancis, yang kemudian menginspirasi banyak negara untuk meniru konsep pemerintahan modern," ungkap seorang pembaca buku sejarah yang tengah menekuni tema politik dan sosial.

Efek kafein dalam kopi membuat diskusi semakin hidup. Zat stimulan ini memblokir adenosin pemicu rasa kantuk sehingga pikiran tetap terjaga. Tak heran jika kopi dijuluki "bahan bakar" bagi lahirnya pemikiran revolusioner.

Jejak awal kopi di Prancis tercatat pada akhir abad ke-17, ketika Francesco Procopio, imigran asal Italia, membuka Café Procope di Paris. Awalnya dikunjungi seniman dan penulis, kedai ini kemudian menjadi tempat berkumpul kaum borjuis dan cendekiawan. Tokoh seperti Voltaire dan Robespierre disebut kerap terlibat dalam diskusi politik di meja kopi, bahkan Napoleon Bonaparte kabarnya menjadi pelanggan tetap.

Slogan legendaris "Liberté, Égalité, Fraternité" diyakini lahir dari perbincangan di kedai kopi. Ide-ide itu berkembang hingga akhirnya Revolusi Prancis pecah pada 1789, menggulingkan Raja Louis XVI dan melahirkan gagasan Trias Politica pemisahan eksekutif, legislatif dan yudikatifyang hingga kini menjadi dasar demokrasi.

Fenomena serupa juga terjadi di Eropa. Raja Charles II Inggris pernah menutup kedai kopi karena khawatir diskusi politik memicu pemberontakan. Di Jerman, kopi bahkan menyaingi bir sebagai minuman rakyat, memicu ketegangan dengan penguasa.

Kini, di Indonesia, kopi menjadi medium dialog sosial dan politik. Kedai kopi kerap dipilih tokoh publik untuk menyerap aspirasi generasi muda sekaligus memperkenalkan kopi Nusantara ke pasar global. Bedanya, diskusi di kedai kopi masa kini lebih ditujukan untuk membangun bangsa, bukan merencanakan revolusi.

Sejarah menunjukkan, dari secangkir kopi sederhana di café Paris, lahirlah gagasan besar yang membentuk wajah demokrasi modern dunia. (dwi/gab/fir)

Editor : M Firman Syah
#Sejarah Dunia #Napoleon #kopi #revolusi perancis #Voltaire