RADAR SURABAYA - Hari Buruh Internasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei, adalah momen penting untuk mengenang perjuangan kaum pekerja di seluruh dunia.
Di Indonesia, Hari Buruh memiliki sejarah panjang yang tidak lepas dari tokoh-tokoh seperti Marsinah, seorang aktivis buruh yang menjadi simbol perjuangan hak pekerja.
Sejarah Hari Buruh Internasional
Hari Buruh bermula dari perjuangan buruh di Amerika Serikat pada abad ke-19. Pada tahun 1886, ribuan buruh melakukan aksi mogok untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi delapan jam sehari.
Aksi ini memuncak pada peristiwa tragis yang dikenal sebagai Kerusuhan Haymarket di Chicago, Amerika Serikat, dimana banyak buruh tewas akibat bentrokan dengan polisi.
Pada tahun 1889, Kongres Sosialis Internasional di Paris menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional untuk menghormati perjuangan para pekerja.
Di Indonesia, Hari Buruh mulai diperingati sejak masa kolonial Belanda pada tahun 1918, namun sempat dilarang pada era Orde Baru. Baru pada tahun 2013, Hari Buruh resmi dijadikan hari libur nasional.
Baca Juga: 10 Ribu Lebih Buruh Jawa Timur Bakal Geruduk Surabaya dalam May Day Besok, Ini Tuntutannya
Marsinah, Simbol Perjuangan Buruh di Indonesia
Marsinah adalah seorang buruh perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur yang dikenal karena keberaniannya memperjuangkan hak-hak pekerja.
Kala itu, Marsinah bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik pembuat jam yang berada di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.
Pada tahun 1993, Marsinah memimpin aksi unjuk rasa untuk menuntut kenaikan upah di pabrik tempatnya bekerja.
Perjuangan Marsinah pun terpaksa terhenti setelah dirinya dinyatakan hilang dan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia secara tragis pada 8 Mei 1993.
Tragisnya, ia ditemukan tewas setelah aksi tersebut, dan kematiannya hingga kini menjadi simbol perjuangan buruh yang belum terselesaikan.
Jenazah Marsinah ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah gubuk di Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur, sekitar 200 kilometer dari tempatnya bekerja, pada 9 Mei 1993.
Saat ditemukan sekujur tubuh Marsinah dipenuhi luka dengan beberapa tulang yang retak dan patah.
Marsinah dikenang sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan keadilan bagi kaum buruh.
Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan, termasuk penghargaan dan monumen, sebagai pengingat akan pentingnya hak-hak pekerja.
Baca Juga: Amankan May Day di Surabaya, Polda Jatim Kerahkan 3.736 Personel, Ini yang Diantisipasi
Makna Hari Buruh dan Inspirasi dari Marsinah
Hari Buruh bukan sekadar hari libur, tetapi juga momen refleksi atas perjuangan panjang buruh untuk mendapatkan hak-hak dasar seperti upah layak, jam kerja manusiawi, dan perlindungan hukum.
Kisah Marsinah mengingatkan kita akan pentingnya solidaritas dan keberanian dalam memperjuangkan keadilan.
Hari Buruh menjadi momentum bersejarah perjuangan para buruh dalam memperjuangkan hak-hak mereka yang belum terpenuhi dengan baik oleh perusahaan dan pemerintah.
Momentum tersebut dimanfaatkan oleh para buruh untuk menyuarakan tentang keadilan dan keperpihakan pada buruh.
Tak hanya itu, Hari Buruh juga harus menjadi momen untuk merenung dan mengambil pelajaran mengenai pekerjaan dan perjuangan para buruh.
May day harus pula menjadi momentum bagi para buruh untuk menghargai dan mengapresiasi perjuangan rekan-rekan mereka sebelum-sebelumnya yang telah berjuang mati-matian hingga saat ini para buruh bisa hidup lebih sejahtera, bisa mendapatkan hak-haknya, dan didengar suaranya. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari