RADAR SURABAYA - Sekitar 200 lebih pegawai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) menggelar aksi demonstrasi di depan kantor kementerian di Jalan Pintu Senayan, Jakarta, Senin (20/1).
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes dugaan sikap arogan dan perilaku kasar Menteri Dikti Saintek, Satryo Soemantri Brodjonegoro.
Demonstrasi yang terjadi mendapat perhatian netizen usai foto-foto dan video aksi tersebut tersebar di media sosial. Salah satunya diunggah oleh Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri, melalui akun X @zanatul_91 pada Senin (20/1).
“Jarang jarang ASN protesnya sampe demo gini,” komentar akun @rend**
Video yang telah ditonton lebih dari 200 ribu tayangan tersebut memperlihatkan para pegawai Kemendikti Saintek menyampaikan protes sambil membawa spanduk kritikan.
Para peserta aksi yang kompak mengenakan seragam hitam membawa berbagai spanduk berisi kritik tajam untuk Menter Satryo Soemantri Brodjonegoro dan istri.
Salah satu spanduk bertuliskan, “Pak Presiden, selamatkan kami dari Menteri pemarah, suka main tampar, dan main pecat.”
Selain itu, terdapat spanduk lain yang berbunyi, “Institusi negara bukan perusahaan pribadi Satryo dan istri!” dengan tagar #LAWAN! #MenteriDzalim #PaguyubanPegawaiDikti.
Spanduk lain berisi: "Kami ASN, Dibayar Oleh Negara, Dibayar Oleh Negara, Bukan Babu Keluarga."
Aksi ini disertai dengan beberapa karangan bunga yang diletakkan di depan kantor kementerian. Karangan bunga tersebut mengungkapkan protes terhadap dugaan arogansi oleh Menteri Satryo.
Salah satu korban dari Satryo pun mengungkap peristiwa pahit yang menimpa dirinya. Pranata hukum Ahli Muda sekaligus Penanggung Jawab Rumah Tangga Kemendikti Saintek, Neni Herlina, mengaku diusir secara kasar dari ruang kerjanya pada Jumat (17/1) lalu.
“Tiba-tiba pimpinan tertinggi kami masuk ke ruangan kami dan di hadapan semua orang, beliau mengusir saya keluar dan memerintahkan pindah ke Kemendikdasmen. Semua ini hanya karena masalah meja kerja yang dianggap tidak menghormati,” ungkap Neni dalam keterangannya.
Neni juga menyampaikan keresahannya atas perlakuan yang dianggap melanggar Hak Asasi Manusia dan nilai-nilai profesionalisme pegawai ASN.
“Sayangnya, penyebab pengusiran saya kemarin itu berawal dari sebuah meja di ruang tertinggi lantai 18, yang mungkin perlu diganti karena dianggap ‘tidak menghormati’ dan lain-lain. Lalu semua masalah urusan rumah tangga yang terjadi di lapangan, bermuara kepada saya, sampai saya harus keluar dari institusi ini,” ucap Neni.
Ia pun mengaku dirinya dipecat oleh Menteri Satryo melalui pesan singkat WhatsApp tanpa ada surat pemberitahuan. Neni menilai, pemecatan itu tak punya dasar hukum kuat.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Pegawai Dikti, Suwitno, menduga pemberhentian Neni disebabkan oleh kesalahpahaman.
Selain itu, Suwitno menyebutkan bahwa aksi unjuk rasa tersebut juga bertujuan menyampaikan aspirasi kepada Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi internal di Kemdikti Saintek.
"Kami lebih kepada menyampaikan saja, terutama kepada pejabat atau kepada Bapak Presiden yang sebenarnya mengangkat dan menunjuk beliau (Satryo Soemantri Brodjonegoro) sebagai menteri," ujarnya.
Isu dugaan kekerasan di lingkungan kerja kementerian ini menjadi sorotan publik, mengingat institusi negara seharusnya mencerminkan profesionalisme dan nilai kemanusiaan.
Namun, Sekjen Kemendikti Saintek, Togar M Simatupang, menyebutkan bahwa pemecatan ASN secara mendadak tidak ada. Togar menegaskan penyelesaian konflik dengan pegawai dapat diselesaikan lewat dialog.
"Sebenarnya masih tersedia ruang dialog yang lebih baik dan ini tetap dengan tangan yang terbuka, pemikiran yang terbuka, dan pencapaian resolusi yang terbaik," jelas Togar.
Hingga saat ini, Satryo belum memberikan tanggapan apapun terkait aksi protes para pegawai Kemendikti Saintek yang ditujukan untuk dirinya. Ia justru didapati kabur dari ruang kerja menghindari aksi protes tersebut.
Berdasarkan video yang beredar di media sosial X oleh akun @amfauzir, terlihat mobil dengan nomor kendaraan RI 25 yang diduga mobil dinas Satryo, meninggalkan lokasi aksi ketika demonstrasi berlangsung. (mey/jay)
Editor : Jay Wijayanto