UMAT Muslim di Indonesia akan segera merayakan Idul Adha besok Senin, 16 Juni 2024.
Selain takbiran dan solat Ied di lapangan dan masjid, pada hari tersebut, umat Muslim juga disunahkan untuk mengorbankan hewan ternak.
Ini untuk memperingati peristiwa ketika Nabi Ibrahim As diperintahkan Allah Swt untuk mengurbankan putranya, Nabi Ismail As.
Selain kegiatan tersebut, terdapat sejumlah sunah yang dapat dilakukan umat Muslim untuk menyempurnakan ibadahnya di hari itu.
Untuk mempelajarinya lebih dalam, simak rangkuman sunah-sunah yang bisa dilakukan di hari raya Idul Adha di bawah ini.
1. Takbiran
Tak hanya ketika hari raya Idul Adha, takbiran juga dilakukan ketika hari raya Idul Adha.
Kegiatan mengumandangkan takbir ketika hari raya Idul Adha juga dilakukan di masjid selayaknya hari raya Idul Fitri.
Hal ini dilakukan sejak terbenamnya matahari sampai imam naik ke mimbar pada hari raya Idul Adha.
Anjuran ini terdapat dalam kitab Raudlatut Thalibin, yang berbunyi:
فَيُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ
Artinya:
“Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah.”
2. Memotong rambut, kuku, dan menggunakan wewangian
Pada saat hari raya Idul Adha, umat Muslim disunahkan untuk merapikan diri.
Salah satunya seperti memotong rambut dan kuku yang telah tumbuh panjang.
Menggunakan wangi-wangian juga dianjurkan untuk dilakukan agar penampilan menjadi lebih baik.
Namun, kegiatan ini juga disunahkan untuk dilakukan di hari-hari biasa, misalnya seperti sebelum salat Jumat.
Keterangan mengenai anjuran ini dikumandangkan dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, yang berbunyi:
والسنة أن يتنظف بحلق الشعر وتقليم الظفر وقطع الرائحة لانه يوم عيد فسن فيه ما ذكرناه كيوم الجمعة والسنة أن يتطيب
Artinya:
“Disunahkan pada hari raya id membersihkan anggota badan dengn memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau badan yang tidak enak. Karena amalan tersebut sebagaimana dilaksanakan pada hari Jumat, dan disunahkan juga memakai wangi-wangian.”
3. Mandi sebelum salat id
Sebelum salat id, umat Muslim hendaknya membersihkan diri mereka dengan cara mandi.
Mandi sebelum salat id dapat dilakukan kapan saja, namun waktu yang baik untuk melakukannya adalah pada tengah malam, sebelum waktu subuh, dan sesudah waktu subuh.
Berikut adalah dalilnya:
يُسَنُّ الْغُسْلُ لِلْعِيدَيْنِ، وَيَجُوزُ بَعْدَ الْفَجْرِ قَطْعًا، وَكَذَا قَبْلَهُ، ويختص بالنصف الثاني من الليل
Artinya:
“Disunahkan mandi untuk shalat id, untuk waktunya boleh setelah masuk waktu subuh atau sebelum subuh, atau pertengahan malam.”
4. Memakai pakaian yang bersih
Di hari yang mulia ini, umat Muslim hendaknya berpenampilan baik dengan mengenakan pakaian yang suci dan bersih.
Sebagian ulama mengatakan bahwa memakai pakaian berwarna putih dan menggunakan serban adalah hal yang paling utama, khususnya untuk kaum laki-laki yang hendak salat id.
Sementara itu, kaum perempuan dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang suci dan bersih.
Sunah ini diungkapkan dalam kitab Raudlatut Thalibin, yang berbunyi:
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَلْبَسَ أَحْسَنَ مَا يَجِدُهُ مِنَ الثِّيَابِ، وَأَفْضَلُهَا الْبِيضُ، وَيَتَعَمَّمُ. فَإِنْ لَمْ يَجِدْ إِلَّا ثَوْبًا، اسْتُحِبَّ أَنْ يَغْسِلَهُ لِلْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، وَيَسْتَوِي فِي اسْتِحْبَابِ جَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ، الْقَاعِدُ فِي بَيْتِهِ، وَالْخَارِجُ إِلَى الصَّلَاةِ، هَذَا حُكْمُ الرِّجَالِ. وَأَمَّا النِّسَاءُ، فَيُكْرَهُ لِذَوَاتِ الْجَمَالِ وَالْهَيْئَةِ الْحُضُورُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْعَجَائِزِ، وَيَتَنَظَّفْنَ بِالْمَاءِ، وَلَا يَتَطَيَّبْنَ، وَلَا يَلْبَسْنَ مَا يُشْهِرُهُنَّ مِنَ الثِّيَابِ، بَلْ يَخْرُجْنَ فِي بِذْلَتِهِنَّ.
Artinya:
“Disunahkan memakai pakaian yang paling baik, dan yang lebih utama adalah pakaian warna putih dan juga memakai serban. Jika hanya memiliki satu pakaian saja, maka tidaklah mengapa ia memakainya. Ketentuan ini berlaku bagi kaum laki-laki yang hendak berangkat shalat id maupun yang tidak. Sedangkan untuk kaum perempuan cukuplah ia memakai pakaian biasa sebagaimana pakaian sehari-hari, dan janganlah ia berlebih-lebihan dalam berpakaian serta memakai wangi-wangian.”
5. Berjalan kaki ke masjid tempat salat id
Sebelum melaksanakan salat id, umat Muslim yang mampu disunahkan berjalan kaki ketika menuju ke masjid tempat dilaksanakannya salat id.
Sementara itu, lansia yang tidak lagi mampu untuk berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh sebaiknya menggunakan kendaraan.
Hal ini disunahkan oleh Imam Nawawi melalui kitab Raudlatut Thalibin, yang berbunyi:
السُّنَّةُ لِقَاصِدِ الْعِيدِ الْمَشْيُ. فَإِنْ ضَعُفَ لِكِبَرٍ، أَوْ مَرَضٍ، فَلَهُ الرُّكُوبُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْقَوْمِ أَنْ يُبَكِّرُوا إِلَى صَلَاةِ الْعِيدِ إِذَا صَلَّوُا الصُّبْحَ، لِيَأْخُذُوا مَجَالِسَهُمْ وَيَنْتَظِرُوا الصَّلَاة
Artinya:
“Bagi yang hendak melaksanakan shalat id disunahkan berangkat dengan berjalan kaki. Sedangkan untuk orang yang telah lanjut usia atau tidak mampu berjalan maka boleh ia menggunakan kendaraan. Disunahkan juga berangkat lebih awal untuk shalat id setelah selesai mengerjakan shalat subuh, untuk mendapatkan shaf atau barisan depan sembari menunggu dilaksanakannya shalat.”
6. Makan setelah salat id
Berbeda dari hari raya Idul Fitri, pada saat hari raya Idul Adha, makan dianjurkan untuk dilakukan setelah salat id.
Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk memakan sesuatu dengan jumlah ganjil, seperti tiga biji kurma.
Namun, apabila tidak memiliki kurma, memakan makanan yang tersedia di rumah pun tidak apa-apa.
Anjuran ini diriwayatkan oleh sahabat Anas RA:
انَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَخْرُجُ يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وترا
Artinya: “Rasulullah SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan beberapa kurma yang jumlahnya ganjil.” (sha/jay)
Editor : Jay Wijayanto