Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Haji 2024: Darb Zubaidah, Jalur Kuno Perjalanan Ibadah Haji yang Masuk Situs Warisan Dunia

Rahmat Adhy Kurniawan • Minggu, 9 Juni 2024 | 19:20 WIB

Jalur Zubaidah berupa jalan bebatuan yang disusun masih terawat hingga saat ini.
Jalur Zubaidah berupa jalan bebatuan yang disusun masih terawat hingga saat ini.
RADAR SURABAYA- Perjalanan ibadah haji umat Islam telah berlangsung selama ratusan tahun Catatan sejarah dan geografis mendokumentasikan ada beberapa rute haji kuno yang populer pada masanya.

Beberapa rute haji kuno yang memegang peran penting dalam perkembangan Islam di antaranya dari Kufah, baghdad, dan menuju Makkah yang kemudian dikenal dengan jalur Zubaidah (Darb Zubaidah).

Darb Zubaidah adalah sebuah jalur yang menghubungkan antara Kufah (Irak) dan Makkah, jalur ini merupakan salah satu jalur haji dan perdagangan yang terpenting, disebut dengan Darb Zubaidah (Jalur Zubaidah) dinisbatkan kepada Zubaidah binti Ja'far bin Abi Ja'far al-Mansur, istri Khalifah Harun Ar-Rasyid, yang berkontribusi pada pembangunan jalur ini hingga namanya diabadikan untuk jalur ini, dan terus dikenang sepanjang masa.

Zubaidah adalah putri Ja'far bin Abi Ja'far Al Mansur, khalifah kedua dari Dinasti Abbasiyah.

Zubaidah wafat pada tahun 831 M, adalah istri yang paling dicintai Khalifah paling sukses dari Dinasti Abbasiyah, Harun Al Rasyid yang memerintah pada 786-803 M.

Bendungan yang dibangun oleh Ratu Zubaidah untuk menampung air dan menyalurkannya ke Kota Makkah.
Bendungan yang dibangun oleh Ratu Zubaidah untuk menampung air dan menyalurkannya ke Kota Makkah.

Tercatat dalam sejarah, Khalifah Harun Al Rasyid beserta keluarga telah sembilan kali naik haji.

Jalur ini mulai digunakan setelah Penaklukan Persia oleh Muslim dan tersebarnya agama Islam di Timur Jazirah Arab, hingga jalur ini digunakan dengan skala yang besar, dimana pusat air, peternakan dan pertambangan yang ada dijalur ini diubah menjadi pos pemberhentian utama.

Jalur Zubaidah menjadi jalur bagi jemaah haji yang melakukan perjalanan dari Baghdad, melewati Kufah di Irak, melintasi wilayah utara dan tengah Arab Saudi hingga sampai di Makkah.

Di wilayah Arab Saudi, panjang total dari jalur ini melebihi 1.400 kilometer dan mencakup lima wilayah yaitu Perbatasan Utara, Hail, Qassim, Madinah, dan Makkah.

Menurut Dr. Muna Abdulkarim Al-Qaisi, seorang spesialis arkeologi kuno dan profesor di Universitas Kufa di Irak, berbagai orang melakukan perjalanan di sepanjang jalan ini, dengan referensi pertama berasal dari abad ketiga sebelum masehi (SM).

Haji 2024Baca Juga: Haji 2024: Sejarah Pembangunan Kabah dari Zaman Nabi Ibrahim hingga Sekarang Ini

Al-Qaisi menjelaskan bahwa orang-orang Akkadia, yang datang dari Jazirah Arab, tiba di Irak selatan, khususnya di pinggiran kota Uruk, melalui rute ini untuk melakukan perjalanan dagang.

Photo
Photo

Rute ini mengalami periode aktivitas kedua selama era Achaemenid, saat itu disebut Al-Muthaqaf.

Kemudian, rute ini dinamai rute Al-Hira, yang membentang di sepanjang Sungai Efrat.

Jalur ini terhubung dengan Jalur Sutra, yang menghubungkan Nasiriyah, Dumat Al-Jandal, Seleukia (Ctesiphon), Hatra, Lembah Tharthar, Sinjar, dan Anatolia.

Pada era Islam, jalur ini dimulai dari Kufa dan mengarah ke Makkah.

Al-Qaisi mengatakan bahwa penggalian antara Samawah dan Diwaniyah menghasilkan temuan-temuan penting, termasuk bukti-bukti tentang masuknya masyarakat kuno ke wilayah tersebut dan mengunjungi tanah-tanah Sumeria dan Akkad.

Penggalian yang berkelanjutan, tambahnya, dapat menghasilkan lebih banyak lagi penemuan arkeologi dan sejarah yang luar biasa.

Jalur ini mulai digunakan setelah Penaklukan Persia (Iran dan sekitarnya) oleh Muslim dan tersebarnya agama Islam di Timur Jazirah Arab, hingga jalur ini digunakan dengan skala yang lebih besar, dimana pusat air, peternakan dan pertambangan yang ada dijalur ini diubah menjadi pos pemberhentian utama.

Pada zaman Kekhalifahan Abbasiyah (750 M- 1571 M), jalur ini menjadi penghubung penting antara Baghdad dengan dua tanah suci (Makkah dan Madinah) serta sejumlah wilayah di Jazirah Arab

Rute ini sangat diperhatikan Khalifah Abbasiyah, terbukti dengan pengadaan berbagai fasilitas seperti bak air, sumur, kolam, serta menara di sepanjang rute.

Selain itu, untuk mengakomodasi kebutuhan jemaah, pelancong, serta hewan tunggangan, Khalifah Abbasiyah berupaya memperluas rute tersebut.

Sumur yang dibangun Zubaidah yang menjadi sumber air untuk masyarakat Makkah saat itu
Sumur yang dibangun Zubaidah yang menjadi sumber air untuk masyarakat Makkah saat itu

Catatan sejarah dan geografis menyebut rute haji tersebut dirancang secara khas dan efisien. Terdapat stasiun dan rumah singgah di sepanjang rute.

Yang paling dikenal dari Darb Zubaidah ini adalah keberadaan mata air yang juga diberi nama mata air Zubaidah.

Mata air ini dibangun pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dengan perancang utama pembangunan adalah sang istri, Zubaidah.

Kala itu, Zubaidah melakukan perjalanan haji dari Baghdad menuju Makkah.

Tiba di Makkah, ia mendapati kota itu sedang mengalami krisis kekurangan air untuk minum para jemaah haji.

Air sulit dicari dan harganya pun tak bisa dijangkau oleh para jemaah haji yang sedang membutuhkan minum.

Melihat kondisi itu, muncul inisiatif baik dari Zubaidah untuk membuat proyek besar yakni membangun bendungan dan saluran air yang sumbernya diambil dari Wadi Nu’man (Lembah Nu’man) yang kemudian dialirkan ke tempat-tempat jemaah haji di Makkah, Arafah, Mina dan Muzdalifah.

Zubaidah memanfaatkan tenaga kuda untuk menarik air dari Wadi Nu’man lalu dialirkan ke saluran di mana jemaah haji berada.

Kecemerlangan ide Zubaidah membuat mata air ini dianggap sebagai salah satu ‘keajaiban’ yang pernah ada dalam sejarah Islam.

Karena jasanya yang besar dalam membantu para jemaah haji, nama Zubaidah pun diabadikan sebagai nama mata air tersebut.

Sayangnya, lama-kelamaan mata air ini mulai jarang digunakan karena tergantikan dengan mata air lain yang ditemukan di Makkah.

Meskipun begitu, pemerintah Arab Saudi tetap mempertahankan keberadaan mata air yang berusia lebih dari 12 abad itu hingga sekarang.

Pemerintah Arab Saudi mendaftarkan Darb Zubaidah sebagai Situs Warisan Dunia kepada UNESCO pada tahun 2015.(rak)

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#madinah #Baghdad #Khalifah Harun Al Rasyid #makkah #jemaah haji #Darb Zubaidah #Haji 2024