Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Heboh Munculnya ‘Gunung Api Baru’ Usai Gempa di Grobogan, Ternyata ini Penjelasannya!

Jay Wijayanto • Rabu, 27 Maret 2024 | 16:27 WIB
Photo
Photo

GROBOGAN-Baru-baru ini warga dihebohkan dengan viralnya video yang menunjukkan munculnya gunung api baru di desa Kalanglundo, kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pasca gempa yang terjadi tempo hari lalu.

Namun, kabar ini ditepis oleh kepala Desa Kalanglundo, Supangat, yang mengatakan bahwa kabar itu tidaklah benar.

Fenomena yang terjadi merupakan Bledug Kramesan atau yang biasa dikenal dengan gunung lumpur (mud volcano).

Supangat mengungkapkan bahwa Bledug Kramesan ini telah muncul berpuluh-puluh tahun bahkan sebelum ia lahir. "Itu sudah lama, bahkan sebelum saya lahir sudah ada," ujar Supangat mengutip Radar Kudus (Jawapos.com), Senin (25/3).

Bledug Kramesan adalah jenis letupan lumpur yang memiliki intensitas lebih rendah, tetapi berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama sehingga membentuk gunungan lumpur.

Menurut catatan Badan Geologi, fenomena seperti Bledug Kramesan telah lama terjadi dan terdokumentasi dalam beberapa naskah sejarah dari kerajaan-kerajaan di Jawa. Bledug Kramesan terletak sekitar 3,4 km dari Bledug Kuwu.

Aktivitas Bledug Kramesan mirip dengan Bledug Kuwu atau Bledug Cangkring, dengan letupan-letupan kecil yang terjadi.

Menurut Supangat, pasca gempa kemarin, volume lumpur yang terlepas tidak sebanyak yang terjadi di Bledug Cangkring.

“Ya, timbul letupan-letupan kecil. Pascagempa kemarin juga tidak memuntahkan lumpur banyak seperti Bledug Cangkring," ujarnya.

Meskipun di area persawahan terdapat beberapa sumber mata air, pertanian oleh penduduk setempat tetap berjalan lancar. "Sumber airnya itu kecil-kecil, seperti di Sendang Dudo Api Abadi Mrapen. Hasil panen di sini juga bagus," imbuhnya.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid, menyatakan bahwa fenomena Bledug Kramesan tidaklah istimewa dimana hal ini sudah wajar terjadi sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Gempa yang terjadi di Bawean pada Jumat (22/3) sore dengan magnitudo 6.5 SR menyebabkan aktivasi yang lebih tinggi dalam sistem migrasi hidrokarbon dan lumpur karena adanya pembukaan, patahan, atau retakan.

"Gejolak lumpur menemukan jalan keluarnya yang pada kali ini melalui Bledug Cangkring, bukan Bledug Kramesan," tuturnya.

Bledug Kramesan mencapai ketinggian 25 meter di atas permukaan tanah. Gunungan ini terbentuk dari material lumpur diapir yang naik ke permukaan dan mengendap membentuk struktur gunung.

Proses pembentukan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti amblesan, kecepatan pengendapan, karakteristik lapisan plastis, tekanan berlebihan pada cairan, serta kompresi tektonik dan panas bumi yang tinggi.

Selain itu, potensi hidrokarbon dan produksi air diagenetik juga berperan dalam pembentukan fenomena ini.

Badan Geologi menyarankan agar penduduk di sekitar Bledug Kuwu dan Bledug Kramesan tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak memiliki dasar ilmiah yang jelas.

Mereka juga menekankan agar tidak terjebak dalam penafsiran yang bervariasi. Badan Geologi berkomitmen untuk terus memantau perkembangan fenomena alam ini. (mg3/rei/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#grobogan #gunung api #mud volcano #Bledug Kramesan #gempa