AS Selidiki Perdagangan 16 Negara, China Disebut Target Utama di Balik Isu “Kelebihan Kapasitas” Industri
Rahmat Adhy Kurniawan• 2026-03-14 04:19:13
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping pada 30 Oktober 2025 lalu di Gimhae International Airport, Busan, Korea Selatan.
AS Luncurkan Penyelidikan Perdagangan terhadap 16 Mitra Dagang, China Jadi Sorotan
RADAR SURABAYA - Pemerintah Amerika Serikat meluncurkan dua penyelidikan perdagangan terhadap 16 mitra dagang utama pada 12 Maret.
Negara-negara yang masuk dalam daftar tersebut antara lain China, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Langkah ini memberi kewenangan kepada presiden AS untuk mengambil berbagai tindakan guna menghadapi praktik yang dianggap sebagai “perdagangan tidak adil”.
Kebijakan tersebut diperkirakan dapat membuka jalan bagi penerapan hambatan perdagangan baru di pasar global.
Pengamat menilai kebijakan ini tidak terlepas dari meningkatnya persaingan ekonomi antara Amerika Serikat dan China, terutama dalam sektor manufaktur strategis.
Fabio Massimo Parenti, profesor asosiasi di China Foreign Affairs University, menyebut Washington melihat China sebagai rival ekonomi yang semakin kuat dalam sejumlah sektor industri penting.
Menurut Parenti, kemajuan industri China dalam beberapa tahun terakhir membuat negara tersebut mampu bersaing secara langsung dengan industri Barat.
“China telah mengonsolidasikan basis industrinya dan naik ke rantai nilai yang lebih tinggi, terutama di sektor kendaraan listrik, baterai, dan teknologi tenaga surya.
Jadi, pada kenyataannya, sengketa ini bukan sekadar soal kelebihan produksi, melainkan tentang daya saing,” ujar Parenti kepada Sputnik.
Isu “Perlindungan Pekerjaan” Jadi Alasan
Parenti menilai pemerintah AS kemungkinan menggunakan narasi perlindungan lapangan kerja domestik sebagai dasar untuk memperketat kebijakan perdagangan terhadap China.
Langkah ini juga dinilai sebagai strategi baru setelah upaya awal pemberlakuan tarif terhadap sejumlah produk impor sebelumnya menghadapi hambatan hukum di Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Dengan pendekatan tersebut, Washington dinilai berupaya menciptakan mekanisme baru untuk menekan produk industri China yang semakin kompetitif di pasar global.
Jika kebijakan ini diterapkan secara luas, para analis memperingatkan bahwa ekonomi dunia bisa semakin dipengaruhi pertimbangan politik dan keamanan nasional.
Sekutu AS Juga Masuk Daftar Penyelidikan
Menariknya, penyelidikan ini tidak hanya menargetkan China. Beberapa sekutu tradisional Amerika Serikat seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Uni Eropa juga masuk dalam daftar negara yang diperiksa.
Hal ini menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam strategi perdagangan Washington.
Menurut Parenti, kebijakan terbaru tersebut menandai pergeseran cara pandang AS terhadap perdagangan internasional.
“Isu ini tidak lagi dipandang hanya sebagai sengketa bilateral dengan China. Washington kini membingkai ulang perdagangan global melalui perspektif persaingan strategis dan keamanan industri,” katanya.
Para analis menilai langkah tersebut berpotensi memperdalam ketegangan perdagangan global dan memicu respons balasan dari negara-negara yang terdampak.
Jika eskalasi terus berlanjut, dinamika perdagangan internasional diperkirakan akan semakin dipengaruhi rivalitas geopolitik antara kekuatan ekonomi besar dunia.(rak)