RADAR SURABAYA - Pengalaman unik dialami Pater Nus Narek SVD, imam Katolik asal Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang saat ini menjalankan misi pelayanan di Kongo, Afrika. Dalam salah satu kunjungan pastoralnya ke wilayah pedalaman, ia mendapat kisah tak terlupakan saat memberkati umat yang hendak berburu di hutan.
Peristiwa itu terjadi ketika Pater Nus mengunjungi sebuah stasi yang berjarak sekitar 90 kilometer dari paroki. Setibanya di kampung tersebut, ia disambut hangat oleh umat setempat, termasuk ketua stasi yang sehari-hari bekerja sebagai pemburu.
Baca Juga: Tragedi Viral di Puncak Gunung Lawu: Pendaki Baku Hantam Gara-Gara Rebutan Spot Foto
Dalam pertemuan itu, sang ketua stasi meminta Pater Nus untuk memberkati dirinya sebelum pergi berburu. Ia berharap mendapatkan hasil buruan yang banyak agar bisa dinikmati bersama pada malam harinya. Pater Nus pun mengabulkan permintaan tersebut dan memberikan doa serta berkat.
Dalam hati, Pater Nus berharap hasil buruan kali ini berupa hewan besar seperti babi hutan atau bahkan rusa. Harapan itu wajar, mengingat sudah lama ia tidak menikmati daging hewan buruan semacam itu selama menjalankan misi di Afrika.
Namun, setelah menunggu cukup lama, pemburu tersebut akhirnya kembali dengan wajah penuh senyum. Pater Nus sempat merasa gembira, mengira doa yang dipanjatkannya membuahkan hasil besar.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat hasil buruan yang dibawa pulang. Bukannya hewan besar, sang pemburu justru mendapatkan beberapa ekor tikus, jangkrik, dan ulat daun.
Meski demikian, ketua stasi tetap menunjukkan rasa syukur. Ia meyakini bahwa hasil tersebut merupakan jawaban dari doa yang telah dipanjatkan. Pater Nus pun membalas dengan senyum dan rasa terima kasih, menghargai ketulusan iman umat yang dilayaninya.
Malam itu, mereka tetap menikmati kebersamaan dengan penuh sukacita. Hidangan sederhana hasil buruan tersebut disantap bersama, ditemani minuman tradisional dari kelapa sawit.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Pater Nus tentang perbedaan budaya dan cara pandang masyarakat setempat terhadap makanan dan kehidupan. Di wilayah tersebut, berburu bukan semata soal mendapatkan hasil besar, tetapi tentang rasa syukur atas apa pun yang diperoleh. (*)
Editor : Lambertus Hurek